Ecozone

Rupiah Tertekan, Investor Alihkan Dana ke Deretan Aset Kripto Potensial

9
×

Rupiah Tertekan, Investor Alihkan Dana ke Deretan Aset Kripto Potensial

Sebarkan artikel ini
ba1f0d2b59dd4b6c9d8c4ec918fefd63.jpg
ba1f0d2b59dd4b6c9d8c4ec918fefd63.jpg

Jakarta – Investor kripto mulai mengalihkan likuiditas dari Bitcoin ke aset kripto alternatif atau altcoin di tengah anjloknya nilai tukar rupiah yang menembus rekor terlemah di level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat pada Selasa (19/5/2026).

Fenomena rotasi aset ini tercermin dari penguatan harga sejumlah altcoin dalam dua pekan terakhir, meskipun di saat yang sama Bitcoin justru melemah ke kisaran US$ 75.000 dari sebelumnya US$ 80.000.

Berdasarkan data CoinGecko, beberapa koin digital mencatatkan performa positif. NEAR melonjak 27,9%, RON naik 32%, ONDO menguat 15,7%, INJ tumbuh 12,3%, dan CHZ naik 7,7%. Sementara itu, HYPE menguat 5,4% hanya dalam waktu 24 jam.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menyatakan bahwa pergerakan ini menunjukkan investor tidak sepenuhnya menarik modal dari aset berisiko. Tren bullish tahap awal diprediksi masih bertahan meski volatilitas pasar sedang tinggi.

Fahmi menjelaskan, bagi investor lokal, pelemahan Bitcoin dalam denominasi dolar AS tidak selalu berarti kerugian. Karena rupiah yang tertekan, nilai aset kripto dalam rupiah justru bisa tetap menguat meski harganya di pasar internasional melemah.

Tekanan terhadap mata uang domestik sendiri dipicu oleh faktor eksternal yang kuat. Lonjakan harga minyak dunia mendekati US$ 100 per barel akibat konflik di Timur Tengah telah memperlebar defisit migas Indonesia.

Selain itu, arus keluar modal dari pasar Asia dipicu oleh penguatan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Investor global saat ini merespons proyeksi The Fed yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari estimasi awal.

Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah. BI diperkirakan bakal mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75% guna menekan potensi inflasi.

Hingga saat ini, kondisi fundamental ekonomi domestik dinilai masih terjaga dengan inflasi April 2026 yang tercatat sebesar 2,42% secara tahunan, serta neraca perdagangan yang masih membukukan surplus meskipun terdapat kenaikan impor barang modal dan migas sebesar 18% pada awal tahun ini.

a1416c131a7b1b0db9ff437599c32139.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Peta kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Setelah sempat dikuasai saham konglomerasi, posisi saham dengan market cap terbesar kini kembali ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Per Selasa (19/5/2026), tidak ada lagi saham di BEI yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 1.000 triliun. Padahal pada penutupan 2025, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)…

8818e523af8182e067fa1c252bd47301.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Kinerja emiten properti diproyeksikan lesu di tengah pelemahan rupiah dan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang diproyeksikan naik pada Mei ini. Pada Selasa (19/5/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.706 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini melemah 0,21% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.668 per dolar AS. Lagi-lagi, ini adalah posisi penutupan terburuk rupiah sepanjang masa. Ketidakberdayaan rupiah ini…