BeritaPemerintahan

Pemerintah Pacu Hilirisasi Semikonduktor dan Cetak Talenta Unggul Kuasai AI Global

68
×

Pemerintah Pacu Hilirisasi Semikonduktor dan Cetak Talenta Unggul Kuasai AI Global

Sebarkan artikel ini
Wamenkomdigi Nezar Patria memberikan Keynote Speech pada President Club Series “Strengthening National Resilience in The Era of Artificial Intelligence” di Menara Batavia, Jakarta Pusat, Selasa (19/05/2026). Foto: Pey HS/Komdigi
Wamenkomdigi Nezar Patria memberikan Keynote Speech pada President Club Series “Strengthening National Resilience in The Era of Artificial Intelligence” di Menara Batavia, Jakarta Pusat, Selasa (19/05/2026). Foto: Pey HS/Komdigi

Jakarta – Pemerintah Indonesia mulai tancap gas untuk bersaing dalam industri kecerdasan artifisial (AI) global.

Langkah strategis ini ditempuh dengan membangun fondasi industri semikonduktor sekaligus menyiapkan talenta digital nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan, pemerintah berkomitmen agar talenta digital dalam negeri mampu menguasai teknologi AI dan menciptakan inovasi secara mandiri.

“Kita tidak ingin hanya menjadi pasar, tetapi kita ingin talenta digital Indonesia mampu menguasai dasar-dasar teknologi AI dan mengembangkan model AI karya anak bangsa,” ujar Nezar dalam acara Keynote Speech President Club Series di Jakarta Pusat, Selasa (19/05/2026).

Nezar menjelaskan, upaya ini krusial untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dalam kompetisi global yang berkembang pesat. Saat ini, pemerintah telah menjalin kerja sama dengan sejumlah industri semikonduktor di Eropa, Jepang, hingga perusahaan Arm di Inggris.

“Pemerintah sudah bekerja sama dengan sejumlah industri semikonduktor di Eropa, Jepang, termasuk Arm di Inggris. Dalam kunjungan Presiden ke berbagai negara, isu semikonduktor juga menjadi pembahasan strategis,” tambahnya.

Menurut Nezar, pengembangan industri AI tidak bisa dipisahkan dari ekosistem semikonduktor sebagai fondasi teknologi komputasi modern. Oleh karena itu, pemerintah fokus membangun ekosistem industri sekaligus mencetak talenta digital yang kompeten.

“Kalau kita bicara industri AI, kita bicara bagaimana membangun ekosistem industrinya dan bagaimana menyiapkan talenta digitalnya. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan,” tegas Nezar.

Indonesia dinilai memiliki modal kuat berupa kekayaan sumber daya alam strategis, seperti nikel, cobalt, timah, pasir silika, hingga zinc yang merupakan bahan baku utama industri chip.

Nezar menekankan pentingnya hilirisasi agar kekayaan alam tersebut tidak hanya dijual sebagai bahan mentah.

“Kita punya cukup banyak sumber daya alam yang penting untuk industri semikonduktor. Tetapi sayangnya sebagian besar masih dijual sebagai bahan mentah. Karena itu hilirisasi menjadi sangat penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi,” jelasnya.

Di tengah dominasi Amerika Serikat dan Tiongkok dalam pengembangan AI, Nezar menyebut penguasaan semikonduktor akan menjadi penentu daya saing bangsa di masa depan.

“Chips akan menjadi faktor penentu apakah sebuah bangsa mampu berkompetisi dalam pertarungan teknologi maju seperti artificial intelligence,” tegasnya.

Sebagai panduan strategis, pemerintah kini tengah menyusun Peta Jalan AI Nasional untuk menyongsong visi Indonesia Digital 2045. Nezar memastikan dokumen tersebut akan menjadi acuan utama bagi pengembangan teknologi di tanah air.

“Peta jalan AI nasional ini bukan hanya dokumen birokratis, tetapi kontrak sosial kita untuk teknologi masa depan Indonesia,” pungkasnya.