Jakarta – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) meragukan akurasi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen pada triwulan I 2026 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan laporan bertajuk Pertumbuhan PDB Indonesia-Kuartal Pertama 2026: Di Balik Angka 5,61 Persen, ditemukan adanya ketidaksinkronan data internal BPS yang signifikan.

Peneliti LPEM UI, Mohamad Ikhsan dan Teuku Riefky, menyoroti inkonsistensi antara pertumbuhan sektor manufaktur dengan sektor listrik, gas, dan air. Data BPS menyebut sektor manufaktur tumbuh 5,04 persen, sementara sektor listrik, gas, dan air justru mencatatkan kontraksi nilai tambah riil sebesar 0,99 persen.

Secara teknis, hasil tersebut dianggap tidak logis karena industri manufaktur merupakan konsumen listrik terbesar di Indonesia, dengan porsi mencapai 40 hingga 42 persen dari total konsumsi nasional. Jika pasokan listrik terkontraksi, maka tidak mungkin sektor manufaktur yang sangat bergantung pada tenaga listrik untuk mesin produksi dan lini perakitan dapat tumbuh hingga 5 persen.

LPEM UI memprediksi pertumbuhan ekonomi riil pada kuartal I 2026 sebenarnya berada di kisaran 4,4 hingga 5,2 persen, dengan estimasi moderat di angka 4,89 persen. Koreksi ini didasarkan pada ketidaksesuaian data output manufaktur dengan konsumsi energi yang menyertainya.

Selain masalah listrik, laporan tersebut menyoroti lonjakan inventori yang tidak wajar. Terdapat kenaikan persediaan dari Rp 4,2 triliun pada kuartal IV 2025 menjadi Rp 104 triliun pada kuartal I 2026. LPEM UI menilai lonjakan 25 kali lipat tersebut kemungkinan besar hanyalah sisa rekonsiliasi data Supply and Use Table (SUT), bukan mencerminkan aktivitas penimbunan barang yang nyata di tingkat perusahaan.

Terkait kinerja fiskal, LPEM UI menilai peningkatan konsumsi pemerintah pada awal tahun ini hanya bersifat pergeseran pola kuartalan. Mengingat total anggaran yang terbatas, kebijakan tersebut berpotensi menekan pertumbuhan sebesar 0,3 hingga 0,5 poin persentase pada paruh kedua tahun 2026.

Secara keseluruhan, LPEM UI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 hanya akan berada di rentang 4,8 hingga 5,0 persen. Angka tersebut bahkan bisa tertekan ke level 4,2 hingga 4,5 persen apabila mempertimbangkan skenario dampak perang Iran serta ancaman fenomena iklim El Nino.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *