Jakarta – Badan Pengelola Investasi Danantara menilai saham badan usaha milik negara (BUMN) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai aset potensial untuk investasi jangka panjang. Hal ini didasarkan pada fundamental perusahaan yang kuat serta imbal hasil yang menjanjikan bagi para investor.
CEO Badan Pengelola Investasi Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa saham-saham BUMN, khususnya dari sektor perbankan (Himbara) dan pertambangan, mampu memberikan yield di atas 10 hingga 11 persen. Ia menilai performa tersebut menunjukkan stabilitas kinerja perusahaan pelat merah di tengah dinamika pasar modal.
Rosan menyoroti bahwa saham perbankan BUMN saat ini cenderung masih berada di posisi undervalued. Menurutnya, rasio price-to-book value (PBV) saham bank BUMN masih di bawah 1 kali, sementara dalam kondisi pasar normal, rasio tersebut idealnya dapat menyentuh angka 2 hingga 3 kali.
Terkait iklim investasi, Rosan memberikan apresiasi terhadap upaya reformasi yang dilakukan oleh BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Langkah tersebut diyakini mampu meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat daya tarik bursa domestik di masa depan.
Senada dengan hal tersebut, Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, mengonfirmasi bahwa kondisi fundamental emiten di bursa saat ini tetap terjaga. Berdasarkan data terkini, tercatat 957 perusahaan telah melantai di bursa, di mana mayoritas telah memenuhi kewajiban pelaporan keuangan.
Nyoman menambahkan bahwa kinerja emiten secara keseluruhan menunjukkan pertumbuhan positif. Tercatat, net profit perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI secara agregat mengalami peningkatan sebesar 21,5 persen. Hal ini mencerminkan resiliensi emiten di tengah tantangan ekonomi global maupun domestik.



![[j&t express] foto pendukung 2 laporan esg 2025](https://www.fenesia.com/wp-content/uploads/2026/05/JT-Express-Foto-Pendukung-2-Laporan-ESG-2025-180x130.webp)



