Ecozone

Kapitalisasi Pasar Saham Konglomerasi Anjlok, BBCA Kembali Pimpin Bursa

11
×

Kapitalisasi Pasar Saham Konglomerasi Anjlok, BBCA Kembali Pimpin Bursa

Sebarkan artikel ini
a1416c131a7b1b0db9ff437599c32139.jpg
a1416c131a7b1b0db9ff437599c32139.jpg

Jakarta – Dominasi saham-saham sektor perbankan kembali memuncaki daftar kapitalisasi pasar atau market cap di Bursa Efek Indonesia (BEI) per Selasa (19/5/2026). PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kini kembali memegang takhta sebagai perusahaan dengan nilai pasar terbesar di bursa domestik, menggeser saham-saham konglomerasi yang sempat mendominasi di penghujung tahun 2025.

Pergeseran ini ditandai dengan fenomena tidak adanya lagi saham di BEI yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 1.000 triliun. Sebagai perbandingan, pada penutupan tahun 2025, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) sempat memimpin dengan nilai mencapai Rp 1.298 triliun. Saat ini, nilai pasar BREN telah terkoreksi signifikan menjadi sekitar Rp 404 triliun dan terlempar ke peringkat empat.

Di sisi lain, BBCA mencatatkan kapitalisasi pasar sebesar Rp 726 triliun. Dominasi sektor perbankan makin dipertegas dengan masuknya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) ke dalam jajaran enam besar kapitalisasi pasar bursa. Sementara itu, beberapa saham konglomerasi lainnya seperti PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengalami penurunan nilai pasar drastis, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) bahkan keluar dari daftar 10 besar.

Direktur Purwanto Asset Management, Edwin Sebayang, menilai perubahan ini sebagai sinyal kematangan investor dalam membedakan nilai pasar yang bersifat fundamental dengan yang cenderung semu. Menurutnya, investor global saat ini lebih mengutamakan aspek likuiditas, transparansi, serta tata kelola perusahaan yang baik.

Ia menjelaskan bahwa penurunan kapitalisasi pasar pada sejumlah emiten tidak selalu mencerminkan kinerja operasional yang memburuk, melainkan bentuk penyesuaian valuasi setelah sempat berada di level yang dianggap terlalu tinggi. Fase pasar saat ini menuntut pembuktian kinerja nyata atau yang disebut sebagai show me the earnings.

Kondisi pasar yang kini lebih tersebar dinilai lebih sehat karena ketergantungan indeks terhadap segelintir saham mulai berkurang. Struktur pasar ke depan diprediksi akan lebih seimbang dengan kontribusi dari sektor konsumer, telekomunikasi, energi, hingga industri.

Senada dengan hal tersebut, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menyebut penurunan nilai pasar pada saham-saham konglomerasi dipicu oleh aksi jual investor asing. Ia menilai pelaku pasar kini jauh lebih selektif dalam menempatkan modal di tengah volatilitas yang tinggi.

Nico menyarankan investor untuk tetap mencermati saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi. Beberapa saham yang direkomendasikan untuk diperhatikan meliputi BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, hingga TPIA guna menopang pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

8818e523af8182e067fa1c252bd47301.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Kinerja emiten properti diproyeksikan lesu di tengah pelemahan rupiah dan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang diproyeksikan naik pada Mei ini. Pada Selasa (19/5/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.706 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini melemah 0,21% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.668 per dolar AS. Lagi-lagi, ini adalah posisi penutupan terburuk rupiah sepanjang masa. Ketidakberdayaan rupiah ini…