Jakarta – Direktur Sepak Bola LaLiga, Juan Florit Zapata, menegaskan bahwa masalah utama sepak bola Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia bukan hanya pada dukungan publik, regenerasi pemain, atau pelatih asing. Menurutnya, akar persoalan justru terletak pada sistem kompetisi yang belum kuat dan berkelanjutan di semua level. Penilaian ini disampaikan Florit pada Rabu, 5 November 2025.
“Indonesia sudah punya gairah dan budaya sepak bola. Tidak semua negara memilikinya. Tapi, gairah saja tidak cukup. Anda butuh sistem kompetisi yang kuat dan berkelanjutan di semua level,” kata Florit dalam sebuah wawancara.
Florit mengidentifikasi lima faktor utama untuk membangun ekosistem sepak bola yang solid: budaya sepak bola, infrastruktur, metodologi latihan, filosofi permainan, dan sistem kompetisi. “Kompetisi yang berjenjang dan konsisten adalah yang paling menentukan,” tegasnya.
Ia mencontohkan sistem di Spanyol, tempat pemain muda bisa berpartisipasi dalam kompetisi resmi sejak usia 7-8 tahun. “Seorang anak di Spanyol bisa memainkan sekitar 500 pertandingan sebelum berusia 18 atau 19 tahun,” jelasnya. “Kami selalu meyakini bahwa pertandingan adalah bagian dari latihan.”
LaLiga, kata dia, berpegang pada prinsip bahwa latihan dan pertandingan tidak bisa dipisahkan. “Latihan mengasah kemampuan teknis, tetapi pertandingan menguji keputusan dan mentalitas. Di situlah pemain menjadi profesional,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah Indonesia bisa lolos ke Piala Dunia tanpa sistem kompetisi yang kuat, Florit menjawab dengan hati-hati. “Sulit, tapi bukan mustahil,” katanya. “Namun membangun struktur kompetitif yang berkelanjutan, dari U-10, U-12, hingga U-19, akan sangat membantu membuka jalan ke sana.”
Ini berarti keberhasilan tim nasional tidak bisa hanya bergantung pada bakat alami atau proyek jangka pendek seperti pemusatan latihan (TC) atau naturalisasi pemain. Yang diperlukan adalah ekosistem kompetitif jangka panjang yang memastikan setiap pemain muda mendapat menit bermain cukup sejak dini.
Jika LaLiga berada di posisi Indonesia, Florit mengatakan dua prioritas utama akan segera dilakukan. “Pertama, membangun sistem kompetisi usia muda yang berjenjang dan sesuai konteks lokal,” paparnya. “Kedua, meningkatkan kapasitas pelatih dan profesional lokal, dari pelatih kepala, analis, pemandu bakat, hingga pelatih fisik.”
Menurut dia, tanpa pelatih lokal yang kompeten dan kompetisi yang terstruktur, semua investasi akan sia-sia. “LaLiga mungkin bisa membantu di tahap awal dengan berbagi keahlian dan metodologi,” ujar Florit. “Tapi dalam jangka panjang, perubahan harus dilakukan oleh profesional lokal dengan pengetahuan dan alat yang memadai.”
Indonesia, dengan populasi besar dan fanatisme sepak bola yang tinggi, sebenarnya memiliki modal berharga yang tidak dimiliki negara lain di kawasan ASEAN. Namun, tanpa kompetisi berjenjang dan sistem pembinaan yang utuh, semuanya sia-sia.
Florit menilai reformasi sepak bola Indonesia harus dimulai dari hal yang paling sederhana tapi paling penting: memberi anak-anak lebih banyak kesempatan bertanding. “Anak yang bermain 500 pertandingan sebelum dewasa akan selalu lebih siap daripada anak yang hanya bermain 50 pertandingan,” tandasnya.
LaLiga membuktikan bahwa sistem kompetisi yang sehat tidak hanya mencetak pemain hebat, tetapi juga menjaga stabilitas finansial klub dan keseimbangan industri sepak bola. Itulah fondasi yang memungkinkan Spanyol, yang kini bertengger di peringkat satu sepak bola dunia, tetap menjadi salah satu eksportir pemain terbaik di dunia.
Indonesia memang belum ke sana. Tapi, seperti kata Florit, “itu bukan mustahil.”







