Jakarta – Laporan East Ventures – Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2026 yang dirilis pada Rabu (15/7/2026) mengungkapkan bahwa kualitas talenta digital di Indonesia belum berkembang secepat laju transformasi infrastruktur dan ekonomi digital nasional.
Dilansir dari laporan East Ventures bersama Katadata Insight Center, pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten menjadi kunci krusial dalam mengoptimalkan potensi kecerdasan buatan (AI) yang diproyeksikan mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) Indonesia hingga 12% atau sekitar Rp 6.612 triliun.
Pilar SDM menjadi satu-satunya komponen dalam EV-DCI 2026 yang mengalami penurunan performa sebesar 2,5 poin di tengah perbaikan hampir seluruh indikator digital lainnya.
Kesenjangan kapasitas digital antarwilayah tercatat masih lebar, di mana skor SDM di Pulau Jawa sekitar 2,3 kali lebih tinggi dibandingkan Sumatra dan Kalimantan, serta hampir tiga kali lipat lebih besar dibanding Maluku dan Papua.
Data tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan masyarakat untuk memanfaatkannya secara produktif dalam aktivitas ekonomi.
Meskipun Indonesia memiliki 229,4 juta pengguna internet dan termasuk dalam sepuluh negara dengan jumlah pengguna AI generatif terbesar, belanja riset dan pengembangan (R&D) nasional masih tertahan di angka 0,3% dari PDB.
Secara agregat, transformasi digital tetap menunjukkan kemajuan signifikan dengan 37 dari 38 provinsi mencatatkan kenaikan skor daya saing digital dibandingkan tahun sebelumnya.
Median skor EV-DCI nasional mengalami peningkatan dari 38,8 pada 2025 menjadi 42,2 pada 2026, yang mencerminkan pertumbuhan rata-rata skor daya saing digital provinsi lebih dari 50% sejak 2020.
Namun, disparitas skor mencapai hampir 60 poin antara provinsi dengan daya saing tertinggi dan terendah, yang menandakan wilayah maju masih tumbuh lebih cepat daripada daerah yang tertinggal.
CEO MySkill, Angga Fauzan, menyatakan bahwa tantangan utama terletak pada belum meratanya penyebaran informasi teknologi serta kemampuan menerjemahkan inovasi menjadi pengetahuan yang praktikal bagi masyarakat luas.
“Salah satu tantangannya adalah belum meratanya penyebaran informasi tentang teknologi terbaru, selain itu menerjemahkan teknologi yang terus berubah menjadi informasi yang mudah dipahami dan praktikal bagi masyarakat juga masih menjadi tantangan besar,” kata Angga Fauzan.
Ia menambahkan bahwa kesenjangan keterampilan antara lulusan pendidikan formal dan kebutuhan industri dipicu oleh lambatnya adaptasi kurikulum terhadap dinamika dunia kerja.
Platform pendidikan teknologi dan program pelatihan intensif dinilai dapat menjadi jembatan adaptif untuk membekali talenta dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini.
Partner East Ventures, Melisa Irene, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, institusi pendidikan, dan pelaku industri untuk mempercepat proses peningkatan kapasitas talenta.
“Dengan talenta yang kompetitif, Indonesia tidak hanya dapat menjadi pasar bagi teknologi digital, tetapi juga melahirkan inovasi yang mampu bersaing di tingkat global,” kata Melisa Irene.
Langkah strategis dalam memperkuat kompetensi AI dan melakukan pelatihan ulang bagi tenaga kerja menjadi urgensi untuk memastikan Indonesia mampu memaksimalkan potensi ekonomi digital yang terus berkembang pesat.







