Ecozone

Data Inflasi AS Rendah, Rupiah Berpotensi Menguat Hari Ini

21
×

Data Inflasi AS Rendah, Rupiah Berpotensi Menguat Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di layar monitor perdagangan pasar uang.
Nilai tukar rupiah terpantau menguat terhadap dolar AS di tengah rilis data inflasi Amerika Serikat yang rendah.

Jakarta – Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Rabu (15/7/2026) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat di level Rp 18.065 per dolar AS, naik 0,09% atau 17 poin di tengah rilis data inflasi Amerika Serikat yang berada di bawah ekspektasi pasar.

Dilansir dari Bloomberg, mata uang Garuda terus menunjukkan tren positif dengan bergerak ke level Rp 18.056 per dolar AS atau naik 0,19% pada pantauan pasar pagi hari ini.

Pada sesi perdagangan sebelumnya, rupiah tercatat ditutup menguat 19 poin ke posisi Rp 18.091 per dolar AS dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level Rp 18.109 per dolar AS.

Sentimen utama yang mendorong penguatan mata uang nasional adalah pelemahan dolar AS yang dipicu oleh penurunan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.

Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyatakan bahwa data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan pasar memberikan tekanan signifikan terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah cukup besar setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari harapan, memicu menurunnya ekspektasi pada suku bunga The Fed,” kata Lukman Leong.

Meskipun demikian, penguatan rupiah diprediksi akan bergerak terbatas karena adanya faktor eksternal berupa kenaikan harga minyak mentah dunia.

Menurut Lukman Leong, memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan harga minyak yang berdampak pada peningkatan permintaan aset safe haven.

Kondisi harga minyak yang tinggi tersebut secara historis memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Berdasarkan analisis teknikal, rupiah diproyeksikan akan bergerak dalam rentang harga Rp 18.000 hingga Rp 18.150 per dolar AS selama sesi perdagangan berlangsung.

Pasar saat ini masih memantau perkembangan kebijakan moneter global serta stabilitas harga komoditas energi yang menjadi perhatian utama para pelaku pasar keuangan domestik.

Selain faktor inflasi, ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi variabel risiko yang dipantau ketat oleh investor dalam menentukan posisi aset mereka.

Data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis baru-baru ini menjadi acuan utama bagi pergerakan nilai tukar di kawasan regional, termasuk Indonesia.

Secara keseluruhan, sentimen pasar saat ini mencerminkan optimisme moderat terhadap kinerja rupiah di tengah dinamika ekonomi global yang penuh tantangan.

Para pelaku pasar diharapkan tetap mencermati volatilitas yang mungkin terjadi seiring dengan berjalannya sesi perdagangan hingga penutupan pasar nanti.