Ecozone

Mendag Sebut Daya Saing Indonesia Tetap Kuat di Tengah Pelemahan Rupiah

12
×

Mendag Sebut Daya Saing Indonesia Tetap Kuat di Tengah Pelemahan Rupiah

Sebarkan artikel ini
ce54561bc40ec022814829a982b0fe98.jpg
ce54561bc40ec022814829a982b0fe98.jpg

Jakarta – Menteri Perdagangan Budi Santoso mendorong para pelaku usaha nasional untuk memaksimalkan peluang ekspor di tengah kondisi nilai tukar rupiah yang masih melemah terhadap dolar AS. Pelemahan mata uang domestik dinilai menjadi momentum strategis bagi produk Indonesia untuk merebut pasar global dengan harga yang lebih kompetitif.

“Ketika rupiah melemah, daya saing barang ekspor kita seharusnya menjadi lebih baik di pasar internasional,” ujar Budi di kompleks Kementerian Perdagangan, Senin, 25 Mei 2026.

Meski sempat diprediksi terus melemah hingga menyentuh level Rp 17.800 per dolar AS, kurs rupiah justru menunjukkan tren penguatan tipis pada pembukaan perdagangan hari ini. Rupiah menguat 21 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp 17.696 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.717.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah kali ini didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Sentimen positif muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi adanya kemajuan konstruktif dalam negosiasi perdamaian dengan Iran.

Optimisme tersebut juga diperkuat oleh penurunan harga minyak mentah dunia yang merespons prospek kesepakatan damai antara Washington dan Teheran. Meski demikian, pasar masih mencermati tantangan domestik, terutama terkait data neraca transaksi berjalan yang menunjukkan angka defisit cukup besar.

Terkait proses negosiasi, Presiden Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Iran sudah hampir final. Perundingan yang melibatkan perantara Pakistan tersebut mencakup berbagai poin krusial, mulai dari pembukaan Selat Hormuz, penanganan program nuklir Iran, hingga rencana pencabutan sanksi ekonomi.

Mempertimbangkan dinamika global dan sentimen domestik tersebut, Lukman memproyeksikan pergerakan nilai tukar rupiah untuk jangka pendek akan berada di kisaran Rp 17.600 hingga Rp 17.750 per dolar AS. Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan pemerintah dalam menjaga stabilitas nilai tukar sembari memperkuat performa ekspor nasional.

ce1fa51febc81a572691d15753ef4c47.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Emiten produsen pipa baja, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) mengumumkan rencana pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai sebanyak-banyaknya Rp 200 miliar. Jumlah saham yang akan dibeli kembali kurang lebih 3,4% atau sekitar 83.330.000 saham dari total saham yang telah dikeluarkan oleh perusahaan. ISSP juga memastikan bahwa jumlah maksimum saham yang dapat dibeli kembali tetap memperhatikan jumlah saham…

9fb4b29103d84310a10f36e5b2bae081.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak menguat terbatas pada perdagangan Senin (24/5/2026). VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi memperkirakan, IHSG pada Senin (25/5/2026)akan bergerak mixed cenderung menguat terbatas dalam rentang level support 5.909 dan resistance 6.305, dengan indikator RSI mulai terjadi pembalikan arah di zona oversold. Menurut Audi, pasar akan dipengaruhi sentimen…

50a8aa329bda7eb681428bb6a0c7d0cb.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) mencatat pertumbuhan positif transaksi BI-FAST sepanjang empat bulan pertama 2026. Tren tersebut sejalan dengan pertumbuhan industri yang masih solid di tengah meningkatnya adopsi layanan digital perbankan. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), volume transaksi ritel BI-FAST mencapai 1,89 miliar transaksi hingga April 2026 atau tumbuh 35% secara tahunan (year on year/YoY). Baca Juga:…

30e44676048e0b8d7c76b621ad5a8749.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Lembaga indeks global FTSE Russell mencoret empat emiten Indonesia dari daftar indeksnya. Keputusan itu tertuang dalam pengumuman June 2026 Quarterly Review yang dirilis Sabtu (23/5/2026). Keputusan tersebut diambil karena sejumlah emiten dinilai memiliki kepemilikan saham yang terlalu terkonsentrasi, tidak memenuhi batas minimal saham beredar atau free float, serta masuk daftar pengawasan khusus. FTSE Russell…