Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih menghadapi risiko koreksi yang signifikan dalam perdagangan saham hari Kamis (16/7/2026) di tengah konsolidasi pasar yang terus berlangsung.
Dilansir dari riset MNC Sekuritas, analis Herditya Wicaksana menyatakan bahwa indeks masih didominasi oleh tekanan jual meskipun volume transaksi cenderung mengecil pasca kenaikan tipis sebesar 0,04% ke level 6.041 pada penutupan sesi sebelumnya.
Berdasarkan analisis teknikal, Herditya menilai IHSG saat ini berada dalam fase konsolidasi yang memberikan peluang untuk menguji level resistance di rentang 6.137 hingga 6.254.
Namun, pelaku pasar diminta tetap waspada karena indeks masih memiliki potensi koreksi yang membayangi pergerakan ke kisaran 5.974 hingga 6.020.
“Cermati area koreksi terdekat yang diperkirakan berada di 5.974–6.020,” kata Herditya.
MNC Sekuritas menetapkan area support IHSG berada pada kisaran 5.839 hingga 5.607, sementara level resistance diproyeksikan berada pada rentang 6.286 hingga 6.599.
Support didefinisikan sebagai area harga saham yang diyakini sebagai titik terendah, di mana harga cenderung kembali naik karena peningkatan daya beli investor.
Sebaliknya, resistance merupakan tingkat harga saham yang dinilai sebagai titik tertinggi, di mana aksi jual biasanya terjadi hingga laju kenaikan harga tertahan.
Dalam kondisi pasar saat ini, MNC Sekuritas merekomendasikan strategi buy on weakness untuk sejumlah saham, termasuk PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Timah Tbk (TINS).
Saham BUMI disarankan untuk diakumulasi pada rentang harga Rp 140 hingga Rp 146 dengan target harga Rp 162 hingga Rp 180 serta level stoploss di bawah Rp 136.
Untuk saham TINS, rekomendasi buy on weakness diberikan pada area Rp 3.390 hingga Rp 3.470 dengan target harga Rp 3.650 hingga Rp 3.900 dan stoploss di bawah Rp 3.260.
Sementara itu, Phintraco Sekuritas mencatat bahwa penguatan IHSG sebelumnya sejalan dengan apresiasi nilai tukar rupiah sebesar 0,13% ke posisi Rp 18.091 per dolar AS.
Meskipun indeks mampu bertahan di atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20), indikator Stochastic RSI terpantau telah memasuki area overbought.
“Sehingga diperkirakan IHSG masih akan berkonsolidasi di kisaran 6.000-6.125,” tulis Phintraco Sekuritas.
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh laporan Bank Indonesia yang menunjukkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$ 444,4 miliar pada Mei 2026 dengan pertumbuhan 2,1% secara tahunan.
Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan menaikkan tarif pajak untuk meningkatkan penerimaan negara, melainkan memilih untuk menaikkan tarif Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di berbagai kementerian.
Revisi outlook PNBP kini dipatok mencapai Rp 575,1 triliun atau setara 125,2% dari target awal dalam APBN 2026 sebesar Rp 459,2 triliun.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan beberapa saham pilihan bagi investor, antara lain PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA), PT Central Omega Resources Tbk (DKFT), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT HM Sampoerna Tbk (HMSP).







