Ecozone

Ericsson: AI dan 5G Harus Bersinergi, Penundaan Spektrum Hambat Adopsi

11
×

Ericsson: AI dan 5G Harus Bersinergi, Penundaan Spektrum Hambat Adopsi

Sebarkan artikel ini
Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby saat memberikan pemaparan mengenai pentingnya sinergi AI dan 5G.
Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menegaskan bahwa percepatan spektrum 5G krusial bagi adopsi teknologi AI.

Jakarta – Ericsson Indonesia menegaskan bahwa pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia tidak akan berjalan optimal tanpa adanya percepatan pembangunan infrastruktur jaringan 5G yang stabil, andal, dan memiliki latensi rendah pada Kamis (16/7/2026).

Dilansir dari Katadata.co.id, Presiden Direktur Ericsson Indonesia Nora Wahby menyatakan bahwa keterlambatan penyediaan spektrum akan menghambat adopsi AI dan potensi output yang diharapkan dari teknologi tersebut.

Menurut Nora Wahby, peningkatan penggunaan aplikasi AI dalam beberapa tahun ke depan akan mendorong kebutuhan terhadap kapasitas jaringan yang jauh lebih besar.

Ia menjelaskan bahwa 5G berfungsi sebagai fondasi utama bagi seluruh ekosistem digital, termasuk pusat data dan berbagai layanan AI yang digunakan langsung oleh masyarakat.

“Jika kita fokus kepada 5G dengan spektrum yang tepat dan pada lokasi yang tepat, 5G akan bisa menjawab banyak kebutuhan AI, termasuk penggunaan AI di sisi pengguna serta menyediakan jaringan yang bisa diandalkan,” kata Nora Wahby.

Saat ini, Indonesia masih berada pada tahap awal pembangunan 5G meskipun pemerintah telah mulai mengalokasikan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz.

Ericsson menilai masih diperlukan penambahan spektrum mid-band serta pita 3,5 GHz untuk meningkatkan kapasitas jaringan agar siap menghadapi lonjakan permintaan AI.

Di sisi lain, Ericsson telah mengintegrasikan AI ke dalam jaringan melalui teknologi AI for RAN yang memungkinkan pengambilan keputusan performa jaringan 5G secara real-time.

“Operator bisa mengambil tindakan secara langsung untuk meningkatkan daya jaringan atau meningkatkan kualitas jaringan yang didedikasikan untuk koneksi tertentu jika diperlukan,” kata Nora Wahby.

Berdasarkan Ericsson Mobility Report yang dirilis Juni 2026, pengguna jaringan 5G di Indonesia tercatat baru mencapai 14% pada akhir 2025.

Head of Network Solutions Ericsson South East Asia Stanislaus Bawono memproyeksikan angka tersebut akan meningkat menjadi 56% pada tahun 2031.

“Kami melihat subscription dari 5G itu akan meningkat dari 14% menjadi 56%,” kata Stanislaus Bawono.

Pertumbuhan pengguna 5G di Indonesia saat ini masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain seperti India yang diprediksi mencapai 81% pada tahun 2031.

Negara-negara di Amerika Utara bahkan diproyeksikan memiliki penetrasi pengguna 5G hingga 92% dalam jangka waktu yang sama.

Pemerintah Indonesia diharapkan segera melakukan lelang spektrum lanjutan untuk mendukung perluasan jaringan 5G sebagai tulang punggung ekonomi digital.

Pemanfaatan 5G dianggap krusial tidak hanya untuk sektor konsumer, tetapi juga untuk mendukung transformasi digital di sektor industri dan layanan pemerintahan.

Secara global, laporan Ericsson Mobility Report mencatat total langganan 5G telah mencapai 3,1 miliar pengguna pada kuartal I 2026.

Jumlah tersebut diperkirakan akan tumbuh pesat hingga mencapai 6,4 miliar pengguna pada akhir 2031 seiring dengan adopsi luas teknologi 5G Standalone.

Jaringan 5G diprediksi akan menangani hingga 85% dari seluruh trafik data seluler global pada tahun 2031 mendatang.