Jakarta – Pasar saham Indonesia saat ini tengah berada dalam fase penuh ketidakpastian akibat berbagai tekanan global. Kondisi ini mendorong PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. (AMOR) untuk menerapkan strategi investasi yang lebih berhati-hati, namun tetap selektif dalam mencari peluang akumulasi aset.
Managing Director AMOR, Arief Wana, menjelaskan bahwa perusahaan mengadopsi filosofi cautious dan opportunistic dalam merespons dinamika pasar. Ketidakpastian yang tinggi membuat pihaknya tidak bisa bersikap terlalu optimistis terhadap laju pasar saham domestik dalam waktu dekat.
Tekanan utama pasar saham saat ini bersumber dari lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Menurut simulasi Ashmore, kenaikan harga minyak yang bertahan lama berisiko menekan pertumbuhan laba emiten atau earnings per share (EPS) sepanjang tahun 2026.
Jika harga minyak terus melonjak hingga menembus US$100 per barel, pertumbuhan laba emiten yang diproyeksikan mencapai 12,2 persen berpotensi melambat menjadi stagnan atau flat. Ashmore mencatat bahwa normalisasi harga minyak setelah guncangan geopolitik biasanya membutuhkan waktu enam hingga tujuh bulan.
Di sisi lain, pasar juga tengah menghadapi tekanan arus keluar dana asing (capital outflow), yang diperburuk dengan adanya penyesuaian bobot saham pada indeks MSCI. Namun, Arief memandang penyesuaian tersebut justru dapat meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.
Dari sisi valuasi, transparansi, dan tata kelola, pasar modal Indonesia dinilai kini jauh lebih menarik. Hal ini menjadi pertimbangan bagi Ashmore untuk tetap mengombinasikan strategi teknikal jangka pendek dengan pendekatan fundamental jangka panjang.
Meski pasar sedang bergejolak, Ashmore masih melihat potensi pertumbuhan di sektor energi dan basic materials. Sektor-sektor tersebut dinilai mampu menangkap peluang keuntungan lebih cepat seiring kenaikan harga komoditas global.
Untuk memitigasi risiko, perusahaan lebih memilih fokus pada prospek fundamental perusahaan yang lebih jelas dibandingkan hanya terpaku pada pergerakan pasar jangka pendek. Ashmore meyakini bahwa pendekatan yang disiplin menjadi kunci utama dalam menghadapi fase pasar yang menantang saat ini.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.







