Ecozone

Ashmore AM Terapkan Strategi Hati-hati dan Oportunis di Pasar Saham

12
×

Ashmore AM Terapkan Strategi Hati-hati dan Oportunis di Pasar Saham

Sebarkan artikel ini
dcbe1d0e868fb089186f7cd9d2ede903.jpg
dcbe1d0e868fb089186f7cd9d2ede903.jpg

Jakarta – Pasar saham Indonesia saat ini tengah berada dalam fase penuh ketidakpastian akibat berbagai tekanan global. Kondisi ini mendorong PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk. (AMOR) untuk menerapkan strategi investasi yang lebih berhati-hati, namun tetap selektif dalam mencari peluang akumulasi aset.

Managing Director AMOR, Arief Wana, menjelaskan bahwa perusahaan mengadopsi filosofi cautious dan opportunistic dalam merespons dinamika pasar. Ketidakpastian yang tinggi membuat pihaknya tidak bisa bersikap terlalu optimistis terhadap laju pasar saham domestik dalam waktu dekat.

Tekanan utama pasar saham saat ini bersumber dari lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Menurut simulasi Ashmore, kenaikan harga minyak yang bertahan lama berisiko menekan pertumbuhan laba emiten atau earnings per share (EPS) sepanjang tahun 2026.

Jika harga minyak terus melonjak hingga menembus US$100 per barel, pertumbuhan laba emiten yang diproyeksikan mencapai 12,2 persen berpotensi melambat menjadi stagnan atau flat. Ashmore mencatat bahwa normalisasi harga minyak setelah guncangan geopolitik biasanya membutuhkan waktu enam hingga tujuh bulan.

Di sisi lain, pasar juga tengah menghadapi tekanan arus keluar dana asing (capital outflow), yang diperburuk dengan adanya penyesuaian bobot saham pada indeks MSCI. Namun, Arief memandang penyesuaian tersebut justru dapat meningkatkan kredibilitas pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.

Dari sisi valuasi, transparansi, dan tata kelola, pasar modal Indonesia dinilai kini jauh lebih menarik. Hal ini menjadi pertimbangan bagi Ashmore untuk tetap mengombinasikan strategi teknikal jangka pendek dengan pendekatan fundamental jangka panjang.

Meski pasar sedang bergejolak, Ashmore masih melihat potensi pertumbuhan di sektor energi dan basic materials. Sektor-sektor tersebut dinilai mampu menangkap peluang keuntungan lebih cepat seiring kenaikan harga komoditas global.

Untuk memitigasi risiko, perusahaan lebih memilih fokus pada prospek fundamental perusahaan yang lebih jelas dibandingkan hanya terpaku pada pergerakan pasar jangka pendek. Ashmore meyakini bahwa pendekatan yang disiplin menjadi kunci utama dalam menghadapi fase pasar yang menantang saat ini.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca.

ba1f0d2b59dd4b6c9d8c4ec918fefd63.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS), mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Di tengah tekanan terhadap mata uang domestik tersebut, sejumlah aset kripto alternatif (altcoin) justru mencatat penguatan signifikan. Baca Juga: Melihat Arah Saham CPO dan Batubara di tengah Rumor Badan Ekspor Komoditas Berdasarkan data CoinGecko,…

a1416c131a7b1b0db9ff437599c32139.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Peta kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Setelah sempat dikuasai saham konglomerasi, posisi saham dengan market cap terbesar kini kembali ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Per Selasa (19/5/2026), tidak ada lagi saham di BEI yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 1.000 triliun. Padahal pada penutupan 2025, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)…

8818e523af8182e067fa1c252bd47301.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Kinerja emiten properti diproyeksikan lesu di tengah pelemahan rupiah dan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang diproyeksikan naik pada Mei ini. Pada Selasa (19/5/2026), rupiah ditutup di level Rp 17.706 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini melemah 0,21% dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.668 per dolar AS. Lagi-lagi, ini adalah posisi penutupan terburuk rupiah sepanjang masa. Ketidakberdayaan rupiah ini…