Ceuta – Puluhan ribu migran secara massal menyeberang dari Maroko menuju wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara dalam beberapa hari terakhir, memicu krisis kemanusiaan dan diplomatik yang signifikan hingga Sabtu (1/8/2026).
Dilansir dari AFP, sumber kepolisian setempat menyatakan bahwa sekitar 40 ribu orang telah memasuki wilayah Ceuta yang memiliki populasi penduduk hanya berjumlah 80 ribu jiwa.
“Arus kedatangan berlangsung terus sepanjang malam dan mereka masih terus berdatangan hingga pagi hari,” kata sumber kepolisian tersebut.
Ratusan pria, perempuan, dan anak-anak terlihat berenang mengitari pagar pembatas yang memisahkan Maroko dan Ceuta dengan menggunakan pelampung sederhana sebelum membuangnya saat mencapai daratan Spanyol.
Sedikitnya 18 orang dilaporkan tewas dalam upaya berbahaya untuk mencapai wilayah tersebut di tengah gelombang migrasi yang tidak terkendali.
Pemerintah Spanyol telah mengerahkan pasukan tambahan guna memperkuat pengamanan di sepanjang garis perbatasan Tarajal.
Perdana Menteri Pedro Sanchez bersama Menteri Dalam Negeri dijadwalkan meninjau langsung kondisi di lapangan untuk memantau situasi terkini.
Dampak dari krisis ini meluas ke ranah hubungan internasional, di mana Prancis mengumumkan pengetatan pemeriksaan di perbatasan dengan Spanyol untuk mengantisipasi pergerakan migran.
Italia bahkan menyerukan agar Spanyol ditangguhkan dari kawasan bebas perbatasan Schengen, sebuah langkah yang memicu protes keras dari pihak Madrid.
Pemerintah Madrid kemudian memanggil Duta Besar Italia dan menuding Roma memanfaatkan krisis migrasi demi kepentingan politik praktis.
Hingga saat ini, penyebab pasti di balik lonjakan migran dari Maroko tersebut masih belum diketahui secara jelas oleh otoritas berwenang.
Peristiwa serupa pernah tercatat pada 2021, ketika lebih dari 10 ribu orang memasuki Ceuta setelah Maroko melonggarkan pengawasan perbatasan akibat ketegangan diplomatik.
Ketegangan diplomatik saat itu dipicu oleh keputusan Madrid dalam menerima pemimpin Front Polisario untuk menjalani perawatan medis di Spanyol.
Hubungan kedua negara sempat membaik pada 2022 setelah Spanyol mengubah kebijakan luar negerinya dengan mendukung rencana Maroko terkait wilayah Sahara Barat.
Ceuta dan Melilla merupakan dua wilayah enklave Spanyol yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan benua Afrika.
Kementerian Dalam Negeri Spanyol mengonfirmasi bahwa sebanyak 48.300 migran telah kembali melintasi perbatasan menuju Maroko setelah upaya repatriasi dilakukan secara intensif.






