Parapat, Sumatra Utara – Ekonom Bank Danamon Hosiana E. Situmorang memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai 5,18% yang didorong terutama oleh realisasi belanja pemerintah, Sabtu (1/8/2026).
Dilansir dari Bank Danamon, angka tersebut menunjukkan adanya perlambatan dibandingkan capaian pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 yang tercatat sebesar 5,61% secara tahunan.
Hosiana menyatakan bahwa belanja negara untuk sejumlah proyek strategis nasional menjadi instrumen utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional selama periode April hingga Juni 2026.
Konsumsi rumah tangga diperkirakan masih berada pada level yang tinggi, meskipun kekuatannya diprediksi tidak setinggi periode sebelumnya.
Kinerja ekspor nasional diproyeksikan mengalami perlambatan yang memberikan tekanan tersendiri terhadap laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Realisasi investasi pada kuartal II 2026 yang mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1% secara tahunan menjadi faktor pendukung signifikan bagi aktivitas ekonomi domestik.
Data dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi menunjukkan bahwa pertumbuhan investasi tersebut didominasi oleh Penanaman Modal Asing (FDI) yang melonjak hingga 27,5% secara tahunan.
Di sisi lain, Bank Dunia dalam laporan terbarunya memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan sulit bertahan di atas angka 5% dalam jangka panjang tanpa adanya reformasi struktural yang komprehensif.
Lembaga keuangan internasional tersebut mengestimasi potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada pada level 4,2%.
Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,0% pada 2026, sebelum meningkat secara bertahap menjadi 5,2% pada periode 2027-2028.
Pencapaian target tersebut dinilai tidak akan terjadi secara otomatis karena sangat bergantung pada keberhasilan pemerintah dalam meningkatkan produktivitas serta daya saing nasional.
Pertumbuhan ekonomi saat ini dinilai masih sangat bergantung pada stimulus dari sisi permintaan, seperti insentif fiskal dan belanja pemerintah yang terarah.
“Pertumbuhan ekonomi terkini didukung oleh stimulus dari sisi permintaan, seperti insentif fiskal dan belanja pemerintah yang terarah,” kata Bank Dunia.
Kebijakan berbasis stimulus tersebut memiliki keterbatasan yang signifikan apabila tidak diikuti dengan langkah-langkah nyata untuk meningkatkan kapasitas produksi nasional.
“Tanpa reformasi yang mendorong produktivitas, skema insentif tersebut hanya akan meningkatkan pertumbuhan untuk sementara waktu, tetapi tingkat pertumbuhan ekonomi tersebut akan sulit untuk dipertahankan secara berkelanjutan,” kata Bank Dunia.
Penguatan sektor produksi menjadi kunci utama agar Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di masa depan secara lebih stabil dan mandiri.
Pemerintah diharapkan mampu menyeimbangkan antara kebijakan stimulus jangka pendek dengan agenda reformasi struktural untuk menjaga keberlangsungan ekonomi dalam jangka panjang.






