Ecozone

Saham BBCA Masih Anjlok 22%, BCA Ungkap Strategi Kerek Harga

16
×

Saham BBCA Masih Anjlok 22%, BCA Ungkap Strategi Kerek Harga

Sebarkan artikel ini
Gedung kantor pusat Bank Central Asia (BCA) di Jakarta dengan logo perusahaan yang terlihat jelas
BCA menyiapkan strategi pembelian kembali saham untuk merespons penurunan nilai saham perusahaan.

Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengumumkan strategi stabilisasi harga saham melalui aksi korporasi pembelian kembali saham atau buyback guna merespons penurunan nilai saham sebesar 22,91% secara year to date hingga Selasa (28/7/2026).

Dilansir dari Katadata.co.id, langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap fundamental perseroan di tengah fluktuasi harga yang terjadi di Bursa Efek Indonesia.

Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menyatakan bahwa aksi pembelian kembali saham dilakukan sesuai dengan hasil Rapat Umum Pemegang Saham dan ketentuan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.

Buyback dilakukan sebagai bentuk komitmen BCA dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap fundamental BCA dan turut mendukung stabilitasi pasar modal nasional,” kata Hera F Haryn.

Ia mengakui bahwa fluktuasi harga saham saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal, termasuk dinamika global, kondisi geopolitik, serta beragam sentimen pasar yang berkembang.

Meskipun terjadi pelemahan harga saham, pihak manajemen menegaskan bahwa perusahaan tetap memprioritaskan fundamental bisnis dan mengambil langkah pruden dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Pada perdagangan terakhir, saham BBCA ditutup terkoreksi 1,19% ke level harga Rp 6.225 dengan total kapitalisasi pasar mencapai Rp 767,39 triliun.

Performa saham BBCA tercatat sempat menyentuh titik terendah dalam tiga tahun terakhir di posisi Rp 4.850 pada 8 Juni 2026 sebelum mencatatkan kenaikan 12,16% dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Di balik dinamika pasar tersebut, BCA mencatatkan kinerja operasional yang solid dengan rekor penyaluran kredit sebesar Rp 1.036 triliun sepanjang semester pertama tahun ini.

Capaian tersebut menandai pertumbuhan sebesar 8% secara tahunan dan merupakan kali pertama portofolio kredit perseroan menembus angka Rp 1.000 triliun.

Pertumbuhan kredit ditopang oleh pendanaan yang kuat, di mana dana giro dan tabungan (CASA) meningkat 10,2% menjadi Rp 1.082 triliun, sementara total dana pihak ketiga naik 7,9% menjadi Rp 1.284 triliun.

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menyebutkan bahwa kinerja positif pada paruh pertama tahun ini didukung oleh penyelenggaraan BCA Expoversary 2026 dan ekspansi kredit produktif.

“Penyaluran kredit produktif mencakup pembiayaan korporasi yang tumbuh 13,6% yoy, mencapai Rp 513,4 triliun dan kredit komersial dan UKM dengan pertumbuhan 6,6% yoy mencapai Rp 288,5 triliun,” kata Hendra Lembong.

Perseroan juga mencatatkan pertumbuhan signifikan pada pembiayaan berkelanjutan, khususnya di sektor energi terbarukan yang melonjak 82% menjadi Rp 7,7 triliun.

Selain itu, penyaluran kredit kendaraan bermotor listrik tercatat meningkat 25% menjadi Rp 4 triliun, sejalan dengan komitmen perusahaan terhadap prinsip kehati-hatian dan keberlanjutan.

Hingga akhir semester pertama, BCA membukukan laba bersih sebesar Rp 29,5 triliun dengan rasio loan at risk di angka 4,9% dan non-performing loan sebesar 1,9%.