Sidoarjo – Delapan jenazah ditemukan saat proses evakuasi korban yang tertimbun bangunan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat, 3 Oktober 2025. Penemuan ini menambah jumlah korban meninggal akibat insiden ambruknya bangunan tersebut menjadi 13 orang, sementara sekitar 50 korban lainnya diperkirakan masih tertimbun.
Tim forensik menghadapi kesulitan dalam mengidentifikasi para korban karena beberapa faktor. Kepala Bidang DVI Pusdokkes Polri, AKBP dr Wahyu Hidajati SpFM, menjelaskan bahwa sidik jari jenazah mulai rusak akibat pembusukan.
Kesulitan bertambah karena sebagian korban merupakan anak-anak yang belum memiliki kartu tanda penduduk (KTP), sehingga data sidik jari mereka belum tersedia. Identifikasi gigi juga terkendala karena belum ada ciri khusus yang dilaporkan oleh keluarga, seperti gigi copot atau kondisi unik lainnya.
Selain itu, Wahyu menyebutkan bahwa sebagian besar korban mengenakan busana yang serupa karena berada di lingkungan pondok, seperti baju koko, peci, dan sarung tanpa identitas nama. Tim juga kesulitan mengidentifikasi tanda lahir pada tubuh karena sebagian keluarga tidak hafal letak tanda lahir korban.
Bangunan empat lantai Pondok Pesantren Al Khoziny roboh pada Senin, 29 September lalu. Saat kejadian, ratusan santri tengah melaksanakan salat asar berjamaah di lantai dua yang difungsikan sebagai musala.
Hingga kini, tim gabungan masih menyisir di sekitar lokasi kejadian untuk mencari puluhan korban yang belum ditemukan. Berdasarkan data sementara yang telah dihimpun oleh BNPB, jumlah korban terdampak secara keseluruhan mencapai 166 orang.







