BeritaSinopsis

[Review] Wonder Woman 1984 : DC Lagi-Lagi Bercanda

356
×

[Review] Wonder Woman 1984 : DC Lagi-Lagi Bercanda

Sebarkan artikel ini
review wonder woman 1984,Wonder woman 1984

FENESIA – Sequel film superhero waniita kebanggaan DC Comics, Wonder Woman, bertajuk Wonder Woman 1984 baru saja di rilis. Setelah mengalami beberapa kali pemunduran jadwal rilis akibat pandemi, film ini akhirnya mengudara pada 16 Desember 2020.

Namun sayangnya, respon penonton tidak terlalu bagus. Film yang dibintangi oleh Gal Gadot ini hanya mendapatkan skor 5.5/10 di IMDb, kalah jauh dari film pertamanya yang meraih skor 7.4/10. Sedangkan dalam platform Rotten Tomatoes, film ini mendapatakan rating yang cukup baik dengan skor 60% dan audience score sebesar 74%.

Memangnya, apa yang salah dari film kedua mengenai Diana Prince ini? Simak ulasan berikut!

Trailer Menjanjikan Namun Eksekusi Membosankan

Saar menonton trailer Wonder Woman 1984, kebanyakan orang memprediksi film ini akan meledak di pasaran. Dengan menampilkan actions scene yang apik, ditambah kemunculan kembali Steve Trevor yang ‘sempat’ mati di film pertama, prediksi seperti itu mungkin tepat.

Nyatanya, film ini memang meledak di pasaran, namun penonton pulang dengan kritikan pedas. Setelah menonton film ini, penulis kembali menonton trailer-nya dan membandingkan keduanya. Hasilnya, hanya berupa desahan kecewa karena trailer lebih-lebih bagus daripada filmnya sendiri. Bahkan saat membuka comment section,  banyak yang beranggapan sama dan menyebut, seharusnya trailer tersebut adalah film aslinya.

Background Story Lemah dan Berantakan

review wonder woman 1984,Wonder woman 1984
Source: internet

 

Dalam sebuah film, cerita atau naskah adalah pondasi utama. Cerita tersebut akan menentukan bagaimana jalannya alur dalam film, bagaimana satu peristiwa mempengaruhi peristiwa lain dalam film, dan bagaimana film tersebut mencapai titik penyelesaiannya.

Sayangnya, cerita yang disajikan oleh Wonder Woman 1984 ini terlihat seperti skesta kasar. Hubungan sebab-akibat antar satu peristiwa satu dengan peristiwa lainnya tidak dibangun dengan baik. Background story dari satu kejadian tidak dibuat dengan kuat, sehingga terlihat sedikit tidak masuk akal, pun dengan berbagai kekuatan ‘magic’ yang ada.

Misalnya, saat Diana Prince meminta pada Batu Kecubung agar sang kekasih, Steve Trevor, dapat ‘hidup kembali’. Terwujudnya permintaan Diana Prince tersebut memang masuk akal, karena memang begitulah fungsi dari Batu Kecubung. Namun, tidak ada penjelasan yang diberikan mengapa Steve harus terbangun di tubuh orang lain, alih-alih dengan raganya sendiri.

Background story dari keteradaan Batu Kecubung pun tidak dijelaskan sama sekali. Batu tersebut tiba-tiba ada disana, mengabulkan permintaan setiap orang yang menyentuhnya dengan imbalan yang entah apa. Tidak ada kriteria khusus mengenai hal apa yang perlu dikorbankan agar permintaan seseorang dapat terwujud. Semuanya acak. Sama acaknya dengan film ini sendiri.

Eksekusi Cerita Terkesan Dipasakan

Source: internet

Imbas dari cerita yang tidak disusun dengan baik, eksekusinya pun hasilnya tidak apik. Final batle antara Diana Prince dan Maxwell Lord serta Cheetah pun sama sekali tidak greget. Malah, batle Diana Prince untuk menangkap sekawanan perampok di sebuah mall saat awal film lebih memuaskan dan eye-catching. 

Penyelesaian cerita yang hanya memanfaatkan Laso Kebenaran dan setitik kemanusiaan pada diri Maxwell Lord jelas sekali tidak terkesan cerdas. Jika ingin menyelesaikan film dengan plot seperti itu, lebih baik menyelesaikan filmnya di satu jam pertama. Satu jam lebih terbuang hanya untuk plot yang garing dan berlubang dimana-mana. Bahkan semisal mereka memotong filmnya menjadi satu jam saja dengan menggabungkan bagian awal dan akhir saja, mungkin film ini akan lebih bagus dari ini.

Kesimpulan: Gal Gadot Cantik dan Chris Pine Ganteng

Source: internet

Walaupun kecewa dengan filmnya, penulis cukup menikmati ketampanan Chris Pine dan akting hebatnya. Terbangun kembali di tubuh orang lain dalam kehidupan era lain membuat karakter Steve Trevor sedikit banyak berhasil menyumbangkan tawa untuk penonton.

Gal Gadot sendiri juga sama hebatnya. Dari film pertama pun, ia memang sangat cocok memerankan karakter Diana Prince. Tidak heran jika melihat kemampuan aktingnya yang mempuni.

Kesimpulannya, film ini mengecewakan. Tapi cukup menghibur untuk ditonton. Hitung-hitung cuci mata melihat para pemeran utamanya.