Jakarta – Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) mengkritik usulan pendidikan singkat selama tiga bulan untuk pengawas gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program makan bergizi gratis (MBG). Menurut Persagi, waktu tersebut tidak cukup untuk menghasilkan tenaga ahli yang kompeten.
Ketua Umum Persagi, Doddy Izwardy, menegaskan bahwa kepakaran seorang ahli gizi membutuhkan pendidikan bertahun-tahun. Ia menyebut, seorang ahli gizi pemula membutuhkan waktu 3-4 tahun untuk menjadi profesional.
“Karena dia ilmunya enggak akan dapat,” kata Doddy di Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (19/11/2025).
Doddy menjelaskan, pekerjaan ahli gizi sangat kompleks. Mereka harus memahami komposisi zat gizi makanan dan kelayakan bahan baku, terutama dalam hidangan MBG.
Analisis gizi yang tidak tepat, menurut Doddy, bisa berbahaya, terutama karena MBG menargetkan kelompok rentan seperti ibu hamil.
Tenaga non-ahli, kata Doddy, bisa saja dilibatkan dalam penyiapan makanan. Namun, analisis komponen gizi dan keamanan pangan tetap membutuhkan tenaga profesional. “Jadi enggak bisa sembarangan,” ujarnya.
Persagi terus mengadvokasi pemerintah agar program MBG tetap melibatkan ahli gizi di SPPG. “Karena kita menjaga (keamanan pangan), bukan (sekadar) menyediakan makanan,” tegasnya.
Kritik ini muncul sebagai respons atas pernyataan Wakil Ketua DPR, Cucun Ahmad Syamsurijal, yang sebelumnya meyakini tenaga pengawas gizi bisa diisi lulusan baru atau *fresh graduate* yang dilatih selama tiga bulan oleh Dinas Kesehatan.
Pernyataan Cucun tersebut sempat viral di media sosial dan menuai polemik. Ia pun telah meminta maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan.
Dalam klarifikasinya, Cucun menyebutkan bahwa usulan pelatihan singkat tersebut muncul dalam rapat Komisi IX DPR bersama Badan Gizi Nasional (BGN) akibat kelangkaan ahli gizi. Namun, menurut Cucun, usulan itu tidak bisa dilakukan karena terbentur peraturan presiden.







