Madrid – Rencana pengurangan jatah motor menjadi hanya satu unit per pembalap di MotoGP memicu diskusi hangat di kalangan tim dan pabrikan. Kebijakan yang diusulkan demi efisiensi anggaran ini dinilai akan mengubah drastis pendekatan strategi balap yang selama ini diterapkan di kelas utama.
Selama ini, setiap pembalap dibekali dua motor dalam garasi. Fasilitas ini memberikan fleksibilitas bagi pembalap untuk tetap berkompetisi meski mengalami kecelakaan saat sesi latihan maupun kualifikasi. Gaya balap agresif seperti yang kerap ditunjukkan Marc Marquez sangat bergantung pada ketersediaan motor cadangan, mengingat ia sering menantang limit kecepatan dengan risiko kecelakaan yang cukup tinggi.
Penerapan satu motor per pembalap sebenarnya bukan hal baru dalam dunia balap motor. Kategori Moto2 dan Moto3, serta ajang Formula 1, telah lama menjalankan sistem serupa dengan mengandalkan ketersediaan suku cadang untuk memperbaiki kerusakan jika terjadi insiden.
Namun, transisi ke sistem satu motor di MotoGP diprediksi akan menjadi tantangan besar, terutama terkait prosedur balapan flag-to-flag. Selama ini, pembalap bisa dengan cepat beralih ke motor kedua yang sudah disetel untuk kondisi cuaca berbeda saat terjadi pergantian kondisi trek. Dengan hanya satu motor, durasi pit stop dipastikan bakal lebih lama karena kru harus melakukan penggantian ban dan penyesuaian setelan secara manual.
Pihak penyelenggara dan pabrikan saat ini masih terus merundingkan regulasi teknis ini untuk siklus kontrak 2027-2031. Sebagai antisipasi, muncul opsi mekanisme perbaikan motor di tempat atau penggantian unit jika terjadi kerusakan parah, serupa dengan prosedur yang diterapkan di ajang World Superbike.
Kebijakan ini menjadi bagian dari rangkaian transformasi besar MotoGP di masa mendatang. Selain rencana pembatasan jatah motor, MotoGP juga bersiap menerapkan regulasi baru seperti penggunaan mesin 850cc, penghapusan perangkat pengatur ketinggian motor atau ride height device, hingga peniadaan jatah wild card.
Perubahan ini menegaskan upaya MotoGP untuk menekan biaya operasional tim. Meski demikian, detail teknis mengenai prosedur darurat saat balapan masih menjadi poin perdebatan agar keselamatan dan aspek kompetitif tetap terjaga bagi seluruh pembalap.







