Jakarta – Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mendesak pemerintah daerah segera mengaktifkan skema beasiswa lokal sebagai langkah konkret mengatasi keterbatasan akses pendidikan tinggi. Inisiatif ini diproyeksikan menjadi solusi atas tingginya angka tunggakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang mengancam keberlangsungan studi mahasiswa akibat kesulitan ekonomi.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek, Muhammad Najib, mengungkapkan bahwa kuota beasiswa Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah) dari pemerintah pusat saat ini sebanyak 950 ribu penerima belum mampu mendongkrak Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi secara signifikan. Saat ini, APK pendidikan tinggi di Indonesia baru mencapai 34 persen, sementara target pemerintah dipatok menyentuh 39 persen pada tahun 2029.
Kolaborasi Daerah dan Sektor Swasta
Najib menekankan perlunya model Kartu Indonesia Pintar Daerah (KIP Daerah) yang dapat diadaptasi dari praktik yang sudah berjalan di Jakarta. Melalui skema ini, pemerintah daerah dapat memberikan beasiswa bagi putra daerah, bahkan menerapkan sistem ikatan dinas agar lulusan dapat langsung berkontribusi membangun wilayah asalnya.
Pemerintah pusat juga menggandeng sektor swasta untuk turut serta melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Kolaborasi lintas sektor ini dinilai krusial mengingat untuk meningkatkan satu persen APK saja, dibutuhkan tambahan sekitar 750 ribu mahasiswa baru yang tidak mungkin hanya dibebankan pada anggaran pusat.
Efisiensi dan Relevansi Lulusan
Selain aspek pembiayaan, Kemendiktisaintek mulai menata ulang ekosistem penerimaan mahasiswa baru. Pemerintah berencana membatasi kuota mahasiswa di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) serta mengatur jadwal seleksi agar Perguruan Tinggi Swasta (PTS) memiliki ruang yang lebih luas untuk menjaring mahasiswa.
Najib menambahkan bahwa peningkatan akses harus dibarengi dengan kualitas pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri. Ia mendorong perguruan tinggi untuk membuka program studi yang adaptif, seperti kecerdasan buatan dan sains data.
Menurutnya, daya tarik pendidikan tinggi tidak hanya terletak pada biaya yang terjangkau, tetapi juga pada jaminan penyerapan tenaga kerja di industri. Kepastian karier setelah lulus dinilai menjadi faktor utama bagi calon mahasiswa untuk memutuskan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.







