Ecozone

Dolar AS Menguat, Ini Deretan Reksadana Berdenominasi Dolar dengan Imbal Hasil Tertinggi

15
×

Dolar AS Menguat, Ini Deretan Reksadana Berdenominasi Dolar dengan Imbal Hasil Tertinggi

Sebarkan artikel ini
9a6509e524e447102db5bddc9b0f53ea.jpg
9a6509e524e447102db5bddc9b0f53ea.jpg

Jakarta – Penguatan indeks dolar Amerika Serikat atau DXY yang kini berada di level 100,0 atau naik 1,75 persen secara year to date (ytd) memicu minat investor terhadap instrumen investasi berbasis mata uang dolar AS, termasuk reksadana. Data Indovesta Utama per 8 Juni 2026 menunjukkan sejumlah reksadana berbasis USD berhasil mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun ini.

Produk reksadana Panin Global Sharia Equity Fund mencatatkan imbal hasil atau return tertinggi mencapai 47,19 persen YTD. Selain itu, Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas B membukukan return sebesar 38,19 persen YTD, disusul oleh Mandiri Asia Sharia Equity Dollar Kelas A dengan kinerja 36,80 persen YTD. Ketiga produk tersebut merupakan reksadana jenis global fund yang menempatkan aset dasarnya pada saham luar negeri.

Kendati demikian, investor diminta tetap mencermati bahwa kinerja reksadana dolar tidak hanya dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Kinerja instrumen tersebut sangat bergantung pada aset dasar atau underlying asset yang menjadi portofolio investasi.

Vice President Infovesta Utama, Wawan Hendrayana, menyatakan bahwa meski dolar AS tengah menguat, reksadana berbasis dolar AS tetap menghadapi volatilitas sesuai dengan karakteristik aset yang dimiliki. Wawan menegaskan bahwa investor perlu memahami bahwa reksadana memiliki jenis yang beragam, baik itu obligasi maupun saham. Keduanya tetap memiliki volatilitas meskipun dengan tingkat magnitude yang berbeda dibandingkan dengan aset berbasis rupiah.

Wawan menyoroti bahwa reksadana pendapatan tetap USD yang berinvestasi pada obligasi saat ini tengah menghadapi tekanan. Hal ini dipicu oleh tren kenaikan inflasi dan suku bunga global, terutama dengan ekspektasi pasar bahwa suku bunga acuan The Fed akan bertahan di level tinggi dalam jangka waktu yang lama. Saat ini, suku bunga acuan The Fed berada di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen.

Kondisi suku bunga tersebut mendorong kenaikan yield obligasi yang berdampak pada penekanan harga obligasi di pasar. Dampaknya, sejumlah reksadana berbasis obligasi dolar AS mencatatkan kinerja negatif dalam periode terakhir. Menurut Wawan, secara umum hanya reksadana pendapatan uang yang masih konsisten mencatatkan kinerja positif.

Meski demikian, potensi pembalikan arah pasar tetap terbuka. Dalam jangka panjang, dolar AS masih menunjukkan tren penguatan terhadap rupiah. Berdasarkan catatan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, nilai tukar dolar AS terhadap rupiah cenderung terus menguat.

Bagi investor yang menginginkan eksposur dolar AS dengan risiko relatif rendah, reksadana pasar uang dolar AS dapat menjadi alternatif pilihan. Produk ini dinilai cocok bagi investor yang tidak mengharapkan volatilitas tinggi namun menginginkan kinerja yang mampu bersaing dengan deposito USD.

Sementara itu, bagi investor dengan cakrawala investasi jangka panjang, reksadana saham global atau global fund dinilai sebagai pilihan yang menarik. Produk ini memiliki fleksibilitas untuk berinvestasi hingga 100 persen pada saham luar negeri dan telah menunjukkan kinerja yang sangat baik. Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh penguatan saham-saham di sektor teknologi, khususnya yang bergerak di bidang semikonduktor dan artificial intelligence.

Walaupun prospeknya menjanjikan, Wawan tetap mengingatkan adanya risiko nilai tukar yang melekat pada instrumen berbasis mata uang asing. Meskipun tren dolar AS saat ini cenderung menguat, terdapat periode tertentu di mana rupiah dapat menguat. Investor perlu berhati-hati karena jika melakukan penjualan dan penukaran ke rupiah pada saat rupiah sedang menguat, hal tersebut berpotensi menurunkan kinerja investasi atau bahkan menyebabkan kerugian.

63b902db542e48ea42dbc0d94a89f872.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mempertimbangkan sejumlah strategi untuk membayar surat utang jatuh tempo di era suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah. Asal tahu saja, suku bunga Bank Indonesia dikerek lagi 25 basis poin (bps) menjadi 5,5% pada awal pekan ini. Sementara, rupiah di pasar spot ditutup di Rp 17.989 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (11/6/2025), melemah 0,25% dari penutupan hari sebelumnya. Melansir…

16fa2f384b5d3f742bdca7ca0a52025b.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emiten properti afiliasi Sugianto Kusuma alias Aguan mengumumkan pembagian dividen dari buku tahun 2025. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025 pada 4 Juni 2026. PANI dan CBDK masing-masing akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 5 per saham. Dengan jumlah saham 18,11 miliar saham, total dividen tunai yang dibayarkan PANI dari…

a3c2dd882a9687ea079dcb420a7856e6.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) anjlok pada Kamis (11/6/2026). Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.689.000. Harga emas Antam itu anjlok Rp 24.000 jika dibandingkan dengan harga pada Rabu (10/6/2026) yang berada di level Rp 2.713.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.395.000 per gram. Harga…