Jakarta – Manajer investasi asing dan domestik terus mendominasi kepemilikan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan mencatatkan 60 posisi kepemilikan di atas 1% berdasarkan data terbaru yang dirilis pada Jumat (7/8/2026).
Dilansir dari Katadata, data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) per 31 Juli 2026 menunjukkan bahwa entitas keuangan asal Singapura menjadi kelompok investor institusi yang paling aktif mengoleksi saham emiten dalam negeri.
Dua manajer investasi asal Singapura, yakni Maybank Securities Pte Ltd dan Phillip Securities Pte Ltd, memimpin pasar dengan total gabungan 33 catatan kepemilikan saham.
Maybank Securities Pte Ltd tercatat sebagai manajer investasi dengan portofolio paling terdiversifikasi karena memiliki saham pada 22 emiten berbeda.
Phillip Securities Pte Ltd menempati urutan kedua dengan kepemilikan pada 11 emiten, termasuk porsi signifikan pada saham MPOW sebesar 44,80% dan STRK sebesar 15,87%.
Investor institusi dari wilayah lain juga turut berpartisipasi, di antaranya CGS International Securities Hong Kong Limited dan CGS International Securities Mauritius Ltd.
Sektor keuangan Amerika Serikat turut terwakili melalui Citibank New York S/A International Finance Corporation dan Citigroup Global Markets Limited yang masing-masing mengelola portofolio di dua emiten.
Di jajaran manajer investasi domestik, sejumlah perusahaan seperti PT Capital Asset Management, PT Pacific Capital Investment, dan PT Henan Putihrai Asset Management mencatatkan kepemilikan saham pada beberapa emiten.
Daftar tersebut juga mencakup PT Ashmore Asset Management Indonesia Tbk, PT Jasa Capital Asset Management, PT Prospera Asset Management, PT Anargya Aset Manajemen, PT Victoria Manajemen Investasi, serta PT Quantum Clovera Investama Tbk.
Manajer investasi sendiri merupakan pihak yang telah memperoleh izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengelola portofolio efek bagi nasabah maupun investasi kolektif seperti reksa dana.
Keputusan investasi yang diambil oleh manajer investasi sering kali menjadi indikator penting bagi pelaku pasar karena besarnya dana yang dikelola mampu memengaruhi likuiditas perdagangan saham.
Perubahan komposisi portofolio oleh institusi ini kerap menjadi acuan bagi investor lain dalam membaca arah pergerakan pasar modal nasional.
Dokumen KSEI tersebut hanya menampilkan kepemilikan saham yang telah memenuhi ambang batas pelaporan di atas 1%, sehingga porsi kepemilikan yang lebih kecil tidak tercermin dalam data ini.
Dominasi entitas asal Singapura dalam daftar tersebut menegaskan posisi negara itu sebagai pusat keuangan regional yang menjadi basis utama bagi berbagai perusahaan pengelola aset global.
Data kepemilikan ini bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada aktivitas transaksi jual-beli yang dilakukan oleh para manajer investasi di pasar modal.
Seluruh entitas yang terdaftar wajib menjalankan strategi pemilihan efek dan pengelolaan risiko sesuai dengan mandat yang diberikan oleh para investor mereka.







