Ecozone

Summarecon Pertimbangkan Refinancing Obligasi di Tengah Tren Suku Bunga Tinggi

16
×

Summarecon Pertimbangkan Refinancing Obligasi di Tengah Tren Suku Bunga Tinggi

Sebarkan artikel ini
63b902db542e48ea42dbc0d94a89f872.jpg
63b902db542e48ea42dbc0d94a89f872.jpg

Jakarta – PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) tengah menyusun langkah strategis untuk menghadapi kewajiban pembayaran surat utang yang akan jatuh tempo di tengah tekanan ekonomi makro. Perseroan mencermati dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia serta tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap beban pendanaan perusahaan.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, SMRA memiliki kewajiban pelunasan Obligasi Berkelanjutan IV Summarecon Agung Tahap II Tahun 2023 Seri A senilai Rp 468 miliar yang akan jatuh tempo pada Oktober 2026. Saat diterbitkan, surat utang tersebut menawarkan imbal hasil atau yield sebesar 7,35 persen.

Tantangan bagi emiten properti ini semakin nyata mengingat yield Surat Berharga Negara (SBN) acuan saat ini telah mencapai level 7,51 persen. Kondisi pasar tersebut menyulitkan perusahaan untuk menerbitkan obligasi baru dengan tingkat bunga atau spread yang kompetitif dibandingkan dengan yield acuan yang berlaku di pasar saat ini.

Direktur SMRA, Lydia Tjio, menyatakan bahwa penggunaan kas internal merupakan skema pembiayaan paling efisien dalam kondisi suku bunga tinggi. Langkah ini diambil untuk menghindari risiko kenaikan beban biaya pendanaan yang berpotensi membengkak seiring dengan meningkatnya suku bunga kredit perbankan.

Manajemen SMRA berkomitmen untuk terus menggenjot kinerja penjualan pemasaran atau marketing sales sebagai sumber pendanaan utama. Peningkatan penjualan diharapkan mampu menopang arus kas perusahaan agar dapat memenuhi berbagai kebutuhan pembiayaan tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pinjaman eksternal yang berbunga tinggi.

Meski memprioritaskan kas internal, Lydia menegaskan bahwa perseroan tetap membuka opsi kombinasi pembiayaan lainnya. Strategi tersebut mencakup kemungkinan penerbitan surat utang baru dengan tenor tertentu atau mencari fasilitas pendanaan dari perbankan yang menawarkan suku bunga lebih kompetitif.

“Untuk setiap pembiayaan, kami juga akan berusaha dan berupaya meningkatkan sales. Ini untuk memberikan dana sendiri yang dapat kami peroleh untuk pembiayaan apa pun,” ujar Lydia dalam paparan publik perusahaan pada Kamis (11/6/2026).

Lydia menambahkan bahwa pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan refinancing melalui bank lain yang dapat memberikan penawaran lebih menarik. Fleksibilitas ini dipandang penting agar perusahaan tetap memiliki ruang gerak di tengah volatilitas pasar keuangan yang dipicu oleh kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.

Sementara itu, Presiden Direktur Summarecon Agung, Adrianto Pitojo Adi, menyatakan optimisme bahwa pemerintah akan merespons tantangan ekonomi saat ini dengan kebijakan yang tepat. Pihaknya meyakini pemerintah akan memberikan insentif guna memitigasi dampak negatif dari kenaikan suku bunga terhadap sektor properti.

“Ketika keluar kebijakan bagus tapi ada sisi lemahnya, Summarecon yakin sekali bahwa pemerintah akan bisa mengatasi itu,” ungkap Adrianto.

Langkah antisipatif ini menjadi krusial bagi SMRA, mengingat pelemahan rupiah yang ditutup pada level Rp 17.989 per dolar Amerika Serikat per Kamis (11/6/2026) turut menambah kompleksitas biaya operasional dan stabilitas keuangan perusahaan di masa mendatang.

9a6509e524e447102db5bddc9b0f53ea.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau DXY membuat investor mulai melirik instrumen investasi berbasis dolar AS, termasuk reksadana dolar AS. Asal tahu saja, saat ini indeks dolar AS berada di level 100,0 atau menguat 1,75% ytd. Dilihat pula dari catatan Indovesta Utama per 8 Juni 2026, sejumlah reksadana berbasis USD menghasilkan kinerja yang positif di tahun ini. Produk reksadana Panin Global Sharia Equity…

16fa2f384b5d3f742bdca7ca0a52025b.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emiten properti afiliasi Sugianto Kusuma alias Aguan mengumumkan pembagian dividen dari buku tahun 2025. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) dan PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2025 pada 4 Juni 2026. PANI dan CBDK masing-masing akan membagikan dividen tunai sebesar Rp 5 per saham. Dengan jumlah saham 18,11 miliar saham, total dividen tunai yang dibayarkan PANI dari…

a3c2dd882a9687ea079dcb420a7856e6.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas batangan bersertifikat Antam keluaran Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) anjlok pada Kamis (11/6/2026). Mengutip situs Logam Mulia, harga pecahan satu gram emas Antam berada di Rp 2.689.000. Harga emas Antam itu anjlok Rp 24.000 jika dibandingkan dengan harga pada Rabu (10/6/2026) yang berada di level Rp 2.713.000 per gram. Sementara harga buyback emas Antam berada di level Rp 2.395.000 per gram. Harga…