KulineRUN

BGN Klarifikasi: Sembilan Balita di Tasikmalaya Diduga Keracunan Makanan Ringan

189
×

BGN Klarifikasi: Sembilan Balita di Tasikmalaya Diduga Keracunan Makanan Ringan

Sebarkan artikel ini
cd5eafd818c1a292f4fa8e305c0aab62.jpg
cd5eafd818c1a292f4fa8e305c0aab62.jpg

Tasikmalaya – Badan Gizi Nasional (BGN) membantah kabar sembilan balita di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami keracunan setelah menyantap hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tim investigasi BGN menyampaikan bahwa para balita tersebut baru mengonsumsi makanan berjam-jam setelah waktu ideal penyajian, yaitu pada pukul 16.00 hingga 17.00 WIB.

Ketua Tim Investigasi BGN, Karimah Muhammad, dalam keterangan tertulisnya Kamis, 16 Oktober 2025, menjelaskan bahwa sebelumnya beredar pemberitaan sembilan balita dari dua Posyandu di Desa Cibeber, Kecamatan Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, mengalami mual dan muntah setelah menyantap menu MBG pada Selasa, 14 Oktober 2025.

Menu MBG yang disajikan terdiri atas ayam suwir bumbu kecap, tahu goreng tepung, tumis wortel kembang kol, buah kelengkeng, dan susu UHT.

Hasil penelusuran tim menunjukkan adanya jeda waktu panjang antara pengiriman dan waktu konsumsi. Hidangan MBG dikirim ke Posyandu pada pukul 10.00 hingga 11.00 WIB. Sementara itu, batas aman konsumsi atau “best before” seharusnya sebelum pukul 13.00 WIB. “Jadi, mereka makan jauh di luar waktu yang disarankan,” ujar Karimah.

Ia menjelaskan, makanan yang disimpan terlalu lama berisiko mengalami pertumbuhan bakteri berbahaya, apalagi jika dikonsumsi oleh balita. “Bakteri hanya memerlukan waktu 15–20 menit untuk berkembang biak, sehingga jumlahnya menjadi dua kali lipat,” tambah Karimah.

Tim BGN juga memaparkan, satu dari sembilan balita sempat diberi pempek setelah menyantap makanan dari menu MBG. Sementara seorang lainnya bukan penerima manfaat program MBG. Orang tua anak tersebut mengaku bernama Dindi dan mengaku sebagai relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Tasikmalaya Manonjaya Cibeber.

Namun, penelusuran tim tidak menemukan nama tersebut dalam daftar relawan maupun data penerima manfaat. Ketika polisi mengumpulkan para ibu yang anaknya disebut menjadi korban, perempuan bernama Dindi tersebut tidak hadir. BGN juga menyesalkan tidak ada konfirmasi langsung ke pihak SPPG Tasikmalaya Manonjaya Cibeber setelah kabar tersebut menyebar.

Kepala SPPG Tasikmalaya Manonjaya Cibeber, Elvira Hawari, mengatakan seluruh balita yang sempat mengalami gejala tersebut sudah pulih keesokan harinya. “Mereka sudah bermain seperti biasa,” ujarnya.

Untuk memastikan keamanan pangan, Puskesmas dan Dinas Kesehatan telah mengambil sampel makanan MBG untuk diuji di laboratorium. Meskipun dapur SPPG tetap beroperasi, distribusi MBG dihentikan sementara menunggu hasil pemeriksaan.

Tim Investigasi BGN menyimpulkan, insiden tersebut bukan disebabkan oleh kesalahan pengolahan MBG. Melainkan karena makanan dikonsumsi jauh melebihi waktu aman. Karimah juga menemukan faktor sosial yang berperan: sebagian keluarga penerima manfaat di Desa Cibeber hanya makan dua kali sehari, sehingga hidangan MBG kerap disimpan hingga sore.

“Kami sarankan agar instruksi waktu konsumsi ditulis dengan jelas dan ditempel di posyandu, tidak hanya disampaikan secara lisan,” ujar Karimah. Ia juga menganjurkan agar kader posyandu menyarankan anak tidak sarapan lebih dulu sebelum datang ke posyandu, agar menu MBG dapat dimakan sebagai santapan pagi menjelang siang.

bbc4f18b83e39aa7940e1e95a4e73877.jpg
KulineRUN

Belakangan ini, daging grass-fed semakin sering dibicarakan karena dianggap lebih sehat dan alami dibanding daging biasa. Di media sosial, istilah ini bahkan kerap dikaitkan dengan pola makan sehat hingga gaya hidup premium untuk hewan ternak. Namun, tidak sedikit orang yang masih bertanya-tanya, apakah daging grass-fed memang benar lebih bergizi a…