Bener Meriah – Bencana banjir di Sumatera telah memaksa ribuan warga Aceh mengungsi. Rumah-rumah hanyut dan tertimbun longsor. Banyak yang memilih tinggal di rumah saudara sambil menunggu hunian sementara (Huntara) selesai.
Salah satunya Hasafah, seorang ibu yang menggendong putrinya menyusuri jalan desa penuh puing di tengah bulan Ramadan.
Suaminya, Mohammad Natsir, mengikuti dari belakang. Akses ke Desa Pantan Kemuning, tempat tinggal mereka, hanya bisa dilalui kendaraan roda dua.
Jembatan penghubung empat desa putus akibat banjir besar pada 26 November 2023. Kini, jembatan darurat telah dibangun.
Natsir dan Hasafah berhenti di puing-puing rumah mereka yang tertimbun lumpur. Tidak ada barang yang tersisa, hanya ingatan tentang rumah yang dibangun empat tahun lalu.
“Terpukul melihat kondisi rumah dibawa banjir,” kata Hafisah.
Setelah banjir, mereka sempat mengungsi ke SD Impres dan posko BNPB. Kemudian, mereka menumpang di rumah adik Natsir, Muslihadi.
“Ini kan Bulan Ramadan, jadi enggak mungkin kayaknya di sana malam-malam sahur. Jadi pulang ke tempat saudara,” ujar Hafisah.
Hafisah mengenang momen Ramadan yang paling ditunggu, yaitu pesanan jahitan baju lebaran dari tetangga. Kini, mesin jahitnya hilang.
Mesin jahit dan mata pencaharian suaminya sebagai pekebun kopi juga lenyap. Hafisah berharap segera mendapat tempat berteduh.
Saat ini, ada 70 KK penyintas bencana dari Desa Pantang Kemuning di posko pengungsian Desa Tunjang. Sebagian mengungsi di rumah saudara.
BNPB mencatat, ada 32.553 jiwa pengungsi di Aceh akibat bencana Sumatera. Bener Meriah menjadi salah satu kabupaten dengan pengungsi terbanyak, yaitu 4 ribu jiwa.
Kerusakan rumah di Bener Meriah mencapai 1.411 unit, terdiri dari 854 rusak berat, 186 rusak sedang, dan 371 rusak ringan.
Pemkab Bener Meriah fokus memindahkan pengungsi ke Huntara yang ditargetkan selesai pekan depan.







