Ecozone

Kospi Anjlok 34%, IHSG Berpotensi Menjadi Incaran Arus Modal Asing

14
×

Kospi Anjlok 34%, IHSG Berpotensi Menjadi Incaran Arus Modal Asing

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan indeks saham KOSPI yang mengalami penurunan tajam di layar monitor bursa efek.
Indeks saham KOSPI mencatatkan penurunan signifikan hingga 34% dalam satu bulan terakhir.

Jakarta – Indeks saham Korea Selatan, KOSPI, secara resmi memasuki fase bearish setelah mencatatkan penurunan signifikan sebesar 1,26% ke level 5.592,79 pada perdagangan Kamis (30/7/2026), memicu kekhawatiran mengenai potensi tekanan jual yang meluas di pasar saham regional termasuk Indonesia.

Dilansir dari Katadata.co.id, kemerosotan indeks ini mencerminkan koreksi akumulatif sebesar 20,13% dalam lima hari perdagangan terakhir dan penurunan tajam sebesar 34,03% dalam kurun waktu satu bulan.

Kondisi ini merupakan pembalikan drastis dari tren sebelumnya, di mana KOSPI sempat mencatatkan reli panjang dengan kenaikan 111,51% hingga menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di level 9.385 pada 22 Juni 2026.

Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa penurunan tersebut dipicu oleh aksi ambil untung atau profit taking pada saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan semikonduktor, khususnya Samsung Electronics serta SK Hynix.

Aksi tersebut disertai dengan proses deleveraging dan arus keluar dana asing yang signifikan, sehingga meningkatkan sentimen risk-off di kalangan investor global terhadap seluruh aset berisiko di kawasan Asia.

“Arus keluar dari Korea tidak selalu berujung menjadi arus masuk ke pasar saham negara berkembang lain,” kata Nafan Aji Gusta.

Dalam kondisi ketidakpastian pasar yang tinggi, investor global cenderung lebih memilih untuk meningkatkan posisi kas atau memindahkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Meskipun pasar saham Indonesia saat ini masih mencatatkan net sell oleh investor asing, Nafan Aji Gusta menegaskan bahwa fenomena tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik daripada dampak langsung dari gejolak di Korea Selatan.

Beberapa faktor domestik yang menjadi perhatian utama investor meliputi tingkat likuiditas pasar, isu klasifikasi indeks global seperti MSCI dan FTSE, pergerakan nilai tukar rupiah, serta arah kebijakan pemerintah.

Potensi masuknya kembali dana asing ke Indonesia tetap terbuka, namun hal tersebut hanya mungkin terjadi apabila volatilitas di Korea mulai mereda dan sentimen terhadap pasar modal domestik mengalami perbaikan fundamental.

“Dengan demikian, potensi inflow ke Indonesia lebih mungkin terjadi setelah fase kepanikan mereda, bukan ketika aksi jual di Korea masih berlangsung,” ujar Nafan Aji Gusta.

Pandangan senada disampaikan oleh Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, yang menilai koreksi tajam KOSPI mencerminkan meningkatnya sikap kehati-hatian atau risk aversion di pasar global.

Elandry Pratama menyatakan bahwa dampak yang paling mungkin dirasakan oleh Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam jangka pendek adalah meningkatnya volatilitas daripada perpindahan modal secara langsung.

Menurutnya, arus modal asing ke depan akan sangat bergantung pada katalis domestik seperti kebijakan Bank Indonesia, kinerja emiten, serta stabilitas ekonomi nasional yang mampu menarik minat investor di tengah ketidakpastian global.