Ecozone

Wall Street Fokus pada Data Tenaga Kerja dan Arah Suku Bunga

16
×

Wall Street Fokus pada Data Tenaga Kerja dan Arah Suku Bunga

Sebarkan artikel ini
3f4262e6117b1742c69b3e17e7c31748.jpg
3f4262e6117b1742c69b3e17e7c31748.jpg

New York – Investor di bursa saham Amerika Serikat kini menaruh perhatian penuh pada data tenaga kerja yang akan dirilis pekan depan. Data ini menjadi penentu krusial bagi arah pasar di tengah kekhawatiran terhadap inflasi yang memanas serta potensi kenaikan suku bunga yang dapat menghentikan tren positif reli saham.

Hingga saat ini, indeks S&P 500 mencatatkan kenaikan selama sembilan pekan berturut-turut. Secara akumulatif, indeks acuan tersebut telah menguat lebih dari 10 persen sepanjang tahun, sementara Nasdaq Composite mencatat kenaikan sebesar 16 persen. Saham sektor teknologi menjadi motor utama kebangkitan ini, didorong oleh prospek laba yang kuat dari tren kecerdasan buatan atau AI.

Laporan ketenagakerjaan yang dijadwalkan meluncur pada 5 Juni mendatang diprediksi akan menjadi penguji ketahanan pasar. Pelaku pasar tengah mencermati apakah ekonomi AS mengalami kondisi terlalu panas. Jika data menunjukkan peningkatan lapangan kerja di atas 150.000, kekhawatiran mengenai ekonomi yang terlalu panas akan meningkat, yang berpotensi mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih tinggi.

Kepala Strategi Investasi di Schwab Center for Financial Research, Liz Ann Sonders, mengungkapkan bahwa jika laporan pekerjaan yang solid berpadu dengan angka inflasi yang tetap tinggi, maka prospek kebijakan Federal Reserve akan berubah. Sebaliknya, laporan yang lebih lemah dari ekspektasi justru dapat meredakan kekhawatiran pasar terkait sikap pengetatan moneter dari bank sentral.

Selain sektor tenaga kerja, kinerja keuangan perusahaan semikonduktor, Broadcom, yang akan diumumkan pada hari Rabu juga menjadi perhatian khusus. Mengingat peran pentingnya, hasil kinerja Broadcom diprediksi akan berdampak signifikan pada sentimen perdagangan saham teknologi yang belakangan ini melonjak drastis akibat pembangunan infrastruktur AI.

Di sisi lain, kondisi geopolitik turut memengaruhi pergerakan pasar. Harapan akan berakhirnya konflik Iran yang sudah berlangsung selama tiga bulan memberikan dukungan positif bagi aset-aset keuangan. Namun, harga komoditas energi yang sempat terpengaruh oleh konflik tersebut menjadi salah satu pendorong naiknya Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) sebesar 3,8 persen hingga April lalu.

Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun yang berada di kisaran 4,45 persen tetap menjadi risiko yang diwaspadai investor. Imbal hasil yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya pinjaman bagi konsumen maupun bisnis sekaligus menciptakan persaingan investasi yang lebih ketat bagi pasar saham. Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi serangkaian data ekonomi manufaktur dan jasa sebelum pertemuan Federal Reserve pada pertengahan Juni mendatang.

7aa57aaa6c45db8706865aeb132f0d77.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan pekan ini dengan koreksi tipis di tengah tekanan eksternal dan domestik yang masih membayangi pasar. Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), indeks melemah 0,56% ke level 6.127,38, sekaligus mencerminkan tren hati-hati investor sepanjang pekan. Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyebut pergerakan IHSG dalam sepekan dipengaruhi kombinasi sentimen…