News

FIFA Pertimbangkan Sanksi Argentina Terkait Polemik Spanduk Falkland

18
×

FIFA Pertimbangkan Sanksi Argentina Terkait Polemik Spanduk Falkland

Sebarkan artikel ini
Pemain Timnas Argentina membentangkan spanduk Las Malvinas son Argentinas di lapangan usai laga melawan Inggris.
Pemain Argentina membentangkan spanduk bertajuk politis usai laga melawan Inggris di semifinal Piala Dunia 2026.

Fenesia – FIFA kini tengah melakukan investigasi disipliner terhadap Timnas Argentina setelah sejumlah pemain membentangkan spanduk bertajuk politis “Las Malvinas son Argentinas” usai menundukkan Inggris 2-1 dalam laga semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta Stadium pada Kamis (16/7/2026).

Dikutip dari Sportbible, tindakan para pemain tersebut memicu reaksi keras dari pemerintah Inggris dan otoritas Kepulauan Falkland karena dianggap melanggar prinsip netralitas politik dalam sepak bola.

Komite Disiplin independen FIFA saat ini sedang meninjau laporan pertandingan untuk menentukan apakah sanksi perlu dijatuhkan kepada pemain yang terlibat, termasuk Lisandro Martinez, Cristian Romero, dan Giovani Lo Celso, menjelang babak final melawan Spanyol.

Spanduk yang dibentangkan merujuk pada sengketa kedaulatan atas Kepulauan Falkland, wilayah seberang laut yang pernah menjadi medan pertempuran dalam Perang Falkland tahun 1982.

Menteri Perdagangan Inggris, Peter Kyle, menyatakan bahwa insiden tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap nilai-nilai dasar turnamen.

“Piala Dunia memiliki salah satu prinsip utama bahwa politik harus dipisahkan dari sepak bola, sehingga saya berharap mereka melakukan penyelidikan secara menyeluruh,” kata Peter Kyle.

Juru bicara Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, menegaskan bahwa posisi pemerintah terkait kedaulatan wilayah tersebut tetap tidak tergoyahkan.

“Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami,” ujar juru bicara tersebut.

Pemerintah Kepulauan Falkland turut mengecam aksi tersebut dan mendesak otoritas sepak bola dunia untuk menerapkan aturan secara konsisten demi menjaga integritas olahraga.

Ketua Partai Liberal Demokrat, Ed Davey, menuntut agar para pemain yang terlibat dijatuhi larangan tampil pada pertandingan final sebagai bentuk penegakan disiplin yang adil.

Ed Davey menyatakan bahwa FIFA wajib bersikap konsisten mengingat preseden hukuman serupa pernah diberikan kepada pemain lain yang terlibat dalam isu politik di masa lalu.

Football enthusiast, Gigih, menjelaskan bahwa rivalitas antara kedua negara di lapangan hijau memang selalu sarat dengan dimensi geopolitik dan sejarah yang mendalam.

“Rivalitas Inggris dan Argentina memang mencapai puncaknya setelah Perang Falklands, tetapi sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya,” kata Gigih.

Menurut Gigih, setiap pertemuan antara kedua timnas tersebut cenderung berlangsung dengan tensi tinggi karena membawa sentimen harga diri nasional dari masing-masing bangsa.

Aturan FIFA secara tegas melarang segala bentuk pesan politik, baik di dalam lapangan maupun selama rangkaian seremoni turnamen berlangsung.

Federasi Sepak Bola Argentina sebelumnya pernah dikenakan denda sebesar 20.000 poundsterling pada tahun 2014 akibat tindakan serupa dalam pertandingan persahabatan melawan Slovenia.

Hasil investigasi dari Komite Disiplin FIFA nantinya akan menjadi penentu apakah skuad asuhan pelatih Argentina akan tampil dengan kekuatan penuh dalam laga perebutan gelar juara dunia mendatang.