Jakarta – Aktivitas perdagangan melalui platform e-commerce di Indonesia hingga saat ini masih terkonsentrasi di kawasan perkotaan dan didominasi oleh wilayah di Pulau Jawa, sebagaimana terungkap dalam laporan riset terbaru yang dirilis pada Minggu (12/7/2025).
Dilansir dari NEXT Indonesia Center, besarnya nilai transaksi digital secara nasional belum mencerminkan pemerataan ekonomi digital di seluruh penjuru tanah air karena masih terhambat oleh disparitas infrastruktur logistik dan kualitas jaringan.
Peneliti NEXT Indonesia Center, Reza Pratama, menyatakan bahwa akses internet yang meluas tidak akan efektif mendorong perdagangan daring tanpa dibarengi dengan daya beli masyarakat serta tingkat literasi digital yang memadai.
“Internet memang dapat diakses dari berbagai wilayah, tetapi aktivitas e-commerce tetap bergantung pada kemudahan pengiriman barang, kestabilan sinyal, kemampuan masyarakat berbelanja, dan pemahaman digital,” kata Reza.
Berdasarkan pengolahan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025, tercatat sekitar 54 juta penduduk atau 19,18% populasi Indonesia aktif berbelanja secara daring.
Sementara itu, jumlah masyarakat yang memanfaatkan platform internet untuk menjalankan usaha atau berjualan hanya mencapai 9,7 juta orang atau sekitar 3,43% dari total penduduk nasional.
Kecenderungan aktivitas e-commerce yang tinggi ditemukan di daerah dengan kepadatan penduduk besar, pusat pendidikan, serta wilayah yang memiliki keterhubungan kuat dengan pusat ekonomi nasional.
Kabupaten Sleman tercatat sebagai daerah dengan rasio pelaku e-commerce atau penjual tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 10,10% dari total penduduk setempat.
Posisi berikutnya sebagai daerah dengan rasio penjual daring tertinggi ditempati oleh Kota Salatiga (9,25%), Kota Yogyakarta (9,13%), Kota Batu (8,92%), serta Kota Malang (8,67%).
Dari sisi pembeli, Kota Yogyakarta memimpin dengan rasio tertinggi secara nasional, yaitu mencapai 36,98% penduduk yang aktif berbelanja melalui platform digital.
Urutan selanjutnya untuk kategori pembeli daring diisi oleh Kota Depok (36,96%), Jakarta Selatan (36,45%), Jakarta Timur (34,73%), Tangerang Selatan (34,03%), dan Kota Bekasi (33,09%).
Kota Pangkalpinang menjadi satu-satunya wilayah di luar Pulau Jawa yang masuk dalam daftar 10 besar daerah dengan rasio pembeli daring tertinggi, yakni sebesar 33,30%.
Riset tersebut menegaskan bahwa wilayah dengan transaksi digital tinggi, seperti Kota Depok dan Jakarta Selatan, telah memiliki cakupan infrastruktur telekomunikasi yang sangat memadai.
Sebaliknya, kondisi di Indonesia Timur masih menghadapi tantangan berat, seperti di Kabupaten Maluku Tenggara di mana hanya 23,83% desa yang telah memiliki menara BTS.
Kendala geografis, tingginya biaya pembangunan menara telekomunikasi, serta mahalnya ongkos logistik dinilai menjadi hambatan utama dalam memperluas jangkauan pasar digital ke wilayah terpencil.
Namun, ketersediaan jaringan internet tidak otomatis meningkatkan transaksi perdagangan, terbukti dari Kabupaten Kepulauan Aru dan Kabupaten Maluku Barat Daya yang memiliki cakupan BTS tinggi di atas 88% tetapi rasio pelaku e-commerce masih di bawah 2,5%.
“Tanpa perbaikan di aspek tersebut, ekonomi digital berpotensi memperlebar ketimpangan kesejahteraan,” ujar Reza.
NEXT Indonesia Center mendorong pemerintah untuk tidak hanya fokus pada perluasan jaringan, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi daerah secara menyeluruh agar manfaat e-commerce dapat dirasakan secara merata.







