Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan ekonomi Indonesia masih positif dan jauh dari krisis. Penegasan ini disampaikan di tengah tekanan global, termasuk kenaikan harga minyak dunia.
Purbaya membantah spekulasi tentang potensi krisis dalam dua hingga tiga bulan mendatang.
“Siapa yang bilang krisis? Di mana-mana macet, daya beli ada. Kita jauh dari krisis, malah ekspansi terus. Resesi aja belum, melambat aja belum,” ujarnya.
Menurutnya, indikator ekonomi domestik masih kuat.
Daya beli masyarakat terjaga, aktivitas belanja tinggi, dan tidak ada tanda perlambatan atau resesi.
Survei konsumen, Purchasing Managers’ Index (PMI), dan penjualan kendaraan masih tumbuh positif.
Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,5 hingga 5,7 persen.
Target ini dinilai realistis jika mesin fiskal dan moneter berjalan optimal dan mendorong sektor swasta.
Pemerintah terus mengaktifkan berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga momentum ekspansi ekonomi.
Di tengah ketidakpastian global, APBN diandalkan sebagai peredam dampak kenaikan harga minyak.
Kebijakan fiskal dinilai mampu menjaga stabilitas ekonomi dari tekanan eksternal.
Efisiensi anggaran dilakukan melalui optimalisasi program, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG) tanpa mengurangi kualitas.
Penataan SDM juga dilakukan dengan memindahkan sekitar 200 pegawai ke Direktorat Jenderal Pajak.
Purbaya menegaskan, dengan indikator dan kebijakan yang ada, Indonesia tidak menuju resesi atau krisis.
Ia memastikan ekonomi akan terus bergerak dalam tren ekspansi dan akselerasi.







