Jakarta – Target penjualan mobil nasional tahun 2025 diprediksi meleset dari target awal. Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) sebelumnya menargetkan angka 900 ribu unit, namun kemudian direvisi menjadi 780 ribu unit.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam mengungkapkan kekhawatirannya jika target tersebut tidak tercapai. Ia berharap penjualan bisa mendekati 800 ribu unit, meskipun persaingan dengan Malaysia semakin ketat.
“Ya mungkin diusahakan close di 800 (ribu) ya. Kalau close 800 (ribu), mahkotanya (penjualan mobil terbanyak di Asia Tenggara) bisa diambil Malaysia,” ujar Bob, Selasa (23/12/2025).
Data Gaikindo menunjukkan penjualan mobil secara wholesales (dari pabrik ke dealer) selama Januari-Oktober 2025 hanya mencapai 634.844 unit. Angka ini turun 10,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 711.064 unit.
Sementara itu, penjualan secara retail sales (dari dealer ke konsumen) tercatat 660.659 unit, atau turun 9,6 persen dari tahun sebelumnya yang mencapai 731.113 unit.
Di sisi lain, Malaysia mencatatkan penjualan mobil sebanyak 655.328 unit selama Januari-Oktober 2025.
Bob Azam menambahkan, jika penjualan mobil di Indonesia lebih rendah dari Malaysia, hal itu dapat berdampak pada investasi di sektor otomotif. “Kalau diambil Malaysia ya investasi nanti yang kita khawatirkan akan masuk ke sana,” katanya.
Lebih lanjut, Bob menilai stimulus keringanan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada tahun 2021 sangat efektif dalam mendorong permintaan mobil baru dan pertumbuhan ekonomi. Ia mencontohkan negara lain seperti Vietnam dan Malaysia yang juga menerapkan insentif serupa.
“PPN itu demand creation, itu otomatis mengguyur likuiditas ke masyarakat. Sangat, sangat (efektif), dan itu juga diterapkan di negara lain seperti Vietnam, yang menurunkan PPN, dan sekarang tumbuh ekonominya 78 persen. Malaysia juga memberikan insentif PPN. Jadi banyak negara-negara memberikan insentif dalam bentuk penurunan PPN,” pungkasnya.







