Jakarta – Pemerintah Indonesia menargetkan serapan dana sebesar Rp 12 triliun melalui lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau Sukuk Negara yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2026. Pemerintah membuka ruang maksimal pemenangan lelang hingga Rp 24 triliun atau dua kali lipat dari target indikatif.
BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan minat investor terhadap instrumen syariah ini cukup tinggi. Berdasarkan risetnya, total penawaran yang masuk diperkirakan berada di kisaran Rp 20 triliun hingga Rp 30 triliun dengan rasio penawaran terhadap permintaan di angka 1,67x hingga 2,50x.
Terdapat delapan seri SBSN yang akan ditawarkan dalam lelang tersebut. Seri yang dilelang meliputi SPNS13072026, SPNS23112026, SPNS01032027 sebagai penerbitan baru, serta pembukaan kembali untuk seri PBS030, PBS040, PBS034, PBS005, dan PBS038.
Proses lelang akan dilaksanakan menggunakan sistem dari Bank Indonesia sebagai agen lelang dengan metode harga beragam atau multiple price. Investor, baik individu maupun institusi, dapat menyampaikan penawaran melalui Dealer Utama yang telah ditunjuk oleh Kementerian Keuangan.
Sesuai ketentuan, pemenang lelang kompetitif akan mendapatkan yield sesuai dengan pengajuan, sementara pemenang non-kompetitif akan mengikuti yield rata-rata tertimbang. Lelang akan dibuka pada pukul 09.00 WIB dan ditutup pada 11.00 WIB pada hari yang sama.
Hasil lelang akan segera diumumkan setelah proses penutupan selesai. Adapun setelmen transaksi dijadwalkan berlangsung pada 4 Juni 2026 atau dua hari kerja setelah pelaksanaan lelang.
Seluruh instrumen SBSN ini diterbitkan berdasarkan fatwa Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia. Seri SPN-S menggunakan akad Ijarah Sale and Lease Back, sementara seri PBS menggunakan akad Ijarah Asset to be Leased dengan underlying asset berupa Barang Milik Negara serta proyek dalam APBN tahun 2026.







