Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi nasional akan terjaga di atas level 5% hingga akhir tahun meski dibayangi tekanan suku bunga tinggi, Rabu (29/7/2026).
Dilansir dari pernyataan resmi pemerintah, Airlangga Hartarto memproyeksikan kinerja ekonomi pada kuartal kedua dan seterusnya akan mendapatkan stimulus signifikan dari peningkatan belanja pemerintah serta realisasi investasi yang terus menguat.
“Kuartal ketiga dan keempat tentu salah satu yang didorong adalah belanja pemerintah dan investasi,” kata Airlangga Hartarto.
Ia mengungkapkan bahwa minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia masih berada pada tingkat yang relatif tinggi.
Namun, para pelaku usaha masih menanti langkah konkret pemerintah dalam melakukan debottlenecking atau penyelesaian hambatan teknis terkait proses perizinan.
“Investasi kemarin sebetulnya minat untuk investasi relatif tinggi, tetapi mereka minta ada beberapa hal yang terkait dengan debottlenecking, termasuk di antaranya terkait dengan perizinan,” ujar Airlangga Hartarto.
Pemerintah saat ini terus melakukan pemantauan ketat terhadap berbagai indikator ekonomi makro di tengah dinamika kebijakan moneter yang berlaku.
Bank Indonesia sebelumnya telah menahan suku bunga acuan di posisi 5,75% pada rapat dewan gubernur terakhir setelah sempat menaikkan sebesar 100 basis poin sejak Mei.
Head of Macroeconomics & Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, memperkirakan otoritas moneter masih memiliki potensi untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada kuartal ketiga tahun ini.
Langkah tersebut diprediksi perlu diambil guna mengantisipasi ketidakpastian global serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“Secara eksternal, konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah terus menimbulkan risiko kenaikan yang signifikan terhadap inflasi global dan jalur suku bunga kebijakan global,” kata Faisal Rachman.
Selain faktor eksternal, terdapat pula risiko domestik berupa efek limpahan dari kenaikan harga energi dan bahan bakar global terhadap prospek inflasi serta neraca eksternal.
Risiko-risiko tersebut dikhawatirkan dapat memicu pelebaran pada defisit kembar yang berpotensi memengaruhi stabilitas fiskal nasional.
Kepala Ekonom BCA, David Sumual, sependapat bahwa terdapat kemungkinan kenaikan suku bunga acuan domestik seiring dengan proyeksi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed.
Kendati demikian, David Sumual tetap meyakini bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di atas ambang batas 5% sepanjang tahun ini.






