Ecozone

Menilik Prospek Saham Prodia dan Niramas Jelang IPO Juli 2026

13
×

Menilik Prospek Saham Prodia dan Niramas Jelang IPO Juli 2026

Sebarkan artikel ini
1d62b5fa5d258fc022ec5502e073efe7.jpg
1d62b5fa5d258fc022ec5502e073efe7.jpg

Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) segera kedatangan dua emiten baru yang akan melantai di pasar modal dalam waktu dekat. PT Niramas Utama, produsen makanan dan minuman dengan jenama INACO, dan PT Prodia Diagnostic Line (PRDL), perusahaan manufaktur alat kesehatan diagnostik, dijadwalkan melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO).

Berdasarkan jadwal yang ditetapkan, PT Niramas Utama dengan kode saham JELI direncanakan mencatatkan sahamnya pada 7 Juli 2026. Berselang dua hari kemudian, tepatnya pada 9 Juli 2026, giliran PT Prodia Diagnostic Line yang akan melantai di bursa.

Dalam masa penawaran awal atau bookbuilding, JELI menetapkan harga di kisaran Rp 900 hingga Rp 1.120 per saham. Melalui penawaran maksimal 350 juta saham biasa atau setara dengan 25,93% dari modal disetor dan ditempatkan penuh, perusahaan berpotensi mengantongi dana segar hingga Rp 392 miliar.

Sementara itu, PRDL mematok harga penawaran di rentang Rp 100 hingga Rp 120 per saham. Dengan melepas maksimal 522,90 juta saham atau setara 30% dari modal disetor dan ditempatkan penuh, PRDL menargetkan perolehan dana maksimal sebesar Rp 62,74 miliar.

Financial Educator Manager Sucor Sekuritas, Hendry Wijaya, menilai prospek PRDL sangat menarik karena didukung oleh tren peningkatan belanja kesehatan pemerintah. Anggaran kesehatan dalam APBN tercatat terus meningkat, dari Rp 218,5 triliun pada 2025 menjadi Rp 244 triliun pada 2026.

Selain itu, keberadaan program cek kesehatan gratis yang menargetkan 140 juta peserta turut menjadi katalis positif bagi PRDL. Perusahaan ini juga dinilai memiliki rekam jejak yang baik dalam memenangkan tender pemerintah, termasuk pengadaan reagen profil lipid senilai Rp 90 miliar pada 2023.

Dari sisi kinerja keuangan, PRDL mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 26,8% dari Rp 58,7 miliar pada 2024 menjadi Rp 74,4 miliar pada 2025. Laba bersih perusahaan bahkan melonjak 69,9% menjadi Rp 17 miliar pada tahun yang sama.

Dengan valuasi price to earnings ratio (P/E) di kisaran 10 hingga 12 kali, Hendry menganggap harga IPO PRDL masih cukup konservatif. Menurutnya, pelaku pasar yang meminati sektor kesehatan dengan kapitalisasi pasar kecil layak mencermati saham ini.

Di sisi lain, JELI mengusung strategi penguatan bisnis konsumen yang telah memiliki fondasi matang melalui jenama INACO. Perusahaan yang berdiri sejak 1990 ini telah memiliki jaringan distribusi luas dan empat fasilitas produksi di Bekasi, Pandaan, Pontianak, serta Sukabumi.

Hendry menyoroti langkah JELI dalam melakukan integrasi vertikal melalui akuisisi PT Supra Natami Utama pada 2025 guna mengamankan pasokan bahan baku. Langkah ini dinilai sebagai sinyal positif mitigasi risiko volatilitas harga bahan baku.

Terkait valuasi, JELI diperdagangkan pada level P/E 31 hingga 38 kali. Angka tersebut dianggap sejalan dengan pertumbuhan laba perusahaan yang naik signifikan dari Rp 1,4 miliar pada 2023 menjadi Rp 39,4 miliar pada 2025.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menambahkan bahwa investor perlu memperhatikan berbagai aspek fundamental sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, faktor seperti pertumbuhan pendapatan, kualitas manajemen, dan penggunaan dana IPO tetap menjadi penentu utama.

Azis mengingatkan bahwa kondisi pasar dan sentimen saat IPO akan sangat menentukan performa saham dalam jangka pendek. Selain itu, porsi saham beredar atau free float yang rendah juga berpotensi meningkatkan volatilitas harga saham di pasar sekunder.

97d965db18f7617a164046e444bf85f1.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,75% diperkirakan akan memberikan tekanan tambahan bagi industri perhotelan dan restoran. Tingginya biaya pendanaan membuat pelaku usaha cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis, terutama yang berkaitan dengan ekspansi usaha maupun renovasi aset. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, mengatakan…

0c01e8520981e2e162a3ba12ae5f3040.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada Jumat (19/6/2026). Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,06% secara harian ke Rp 17.804 per dolar AS. Berdasarkan Jisdor Bank Indonesia (BI), rupiah di level Rp 17.826 per dolar AS, nilai ini sama dengan nilai pada penutupan perdagangan sehari sebelumnya (18/6/2026). Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo…

4a59202839c9d97c122903b37620ea47.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Bank CIMB Niaga Tbk masih mempertahankan target bisnis tahun 2026 meski Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) total 125 bps sejak awal tahun menjadi 5,75%. Head of Digital Banking & Contact Center CIMB Niaga Lusiana Saleh mengatakan, saat ini pihaknya masih melakukan penyesuaian internal menyusul kenaikan suku bunga acuan tersebut. Namun, dampaknya terhadap kinerja bank belum signifikan. Baca…

a1416c131a7b1b0db9ff437599c32139.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Di tengah volatilitas pasar saham yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir, kinerja indeks saham-saham BUMN di bawah Danantara yakni IDX BUMN20 terlihat cukup tahan banting. Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX BUMN20 memang terkoreksi 17,28% year to date (ytd) ke level 315,195 hingga Jumat (19/6). Namun, capaian ini masih lebih baik dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah anjlok 28,56% ytd…

6e36be6c72eaa51cadb11663ac94b9a2.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026 menjadi masukan konstruktif untuk memperkuat kualitas dan daya saing pasar modal Indonesia. Seperti diketahui, Morgan Stanley Capital International resmi mempertahankan Indonesia dalam kelompok Emerging Market berdasarkan hasil MSCI Global Market Accessibility Review 2026 Namun, MSCI menurunkan penilaian kriteria arus informasi…