Ekonomi

Menggugat Kemandirian Otomotif Indonesia Setelah 81 Tahun Merdeka

12
×

Menggugat Kemandirian Otomotif Indonesia Setelah 81 Tahun Merdeka

Sebarkan artikel ini
ec8be3849e97ff4cb850cdff855d482b.jpg
ec8be3849e97ff4cb850cdff855d482b.jpg

Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menyoroti rendahnya kemandirian industri otomotif nasional meski Indonesia telah merdeka selama lebih dari delapan dekade. Ia mempertanyakan alasan di balik ketidakmampuan bangsa dalam memproduksi kendaraan sendiri di tengah besarnya potensi pasar domestik.

Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Presiden di hadapan ratusan rektor, guru besar, dan akademisi dalam acara sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains Teknologi dan Industri (KSTI) di Jakarta Convention Center, Jumat (26/6).

Prabowo secara terbuka menantang para cendekiawan untuk memberikan solusi atas permasalahan ketergantungan impor yang masih membelenggu ekonomi Indonesia. Ia menekankan bahwa peran perguruan tinggi sangat krusial dalam memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kebangkitan industri nasional.

Kenapa Indonesia setelah 81 tahun tidak bisa bikin mobil buatan sendiri, ujar Prabowo di hadapan para akademisi. Ia mengaku sering melontarkan pertanyaan serupa kepada kalangan ilmuwan terkait berbagai persoalan mendasar lain, seperti ketergantungan impor gandum dan produktivitas perkebunan sawit yang masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.

Menurut Presiden, Indonesia merupakan pasar otomotif yang sangat besar dengan angka penjualan sepeda motor mencapai jutaan unit setiap tahunnya. Namun, besarnya konsumsi domestik ini belum mampu dikonversi menjadi kekuatan industri manufaktur kendaraan yang mandiri dan berdaya saing.

Kita beli motor 10 juta unit tiap tahun, kenapa tidak ada pabrik buatan Indonesia, tanyanya. Meski demikian, ia memberikan apresiasi kepada berbagai pihak di sektor pendidikan yang kini mulai menunjukkan langkah konkret dalam pengembangan kendaraan nasional.

Presiden menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen mendorong pengembangan industri otomotif dalam negeri sebagai prioritas. Ia memberikan contoh penggunaan mobil dinas Maung RI-1 produksi PT Pindad sebagai bentuk dukungan nyata terhadap karya anak bangsa.

Ia menyadari bahwa kendaraan tersebut memang belum sempurna dan sempat mengalami sejumlah kendala teknis saat digunakan. Namun, Prabowo menilai hal tersebut merupakan bagian alami dari proses panjang pembangunan kemampuan industri nasional yang harus terus dikembangkan.

Desainnya Indonesia, dibuat di Indonesia, jelasnya. Ia juga meluruskan persepsi mengenai standar konten lokal, di mana sebuah produk tidak harus memiliki komponen 100 persen dari satu negara.

Kalau 65 hingga 70 persen komponennya berasal dari dalam negeri, maka produk tersebut sudah layak diklaim sebagai buatan Indonesia, tegas Prabowo.

Acara sarasehan KSTI ini dihadiri oleh sekitar 2.600 peserta yang terdiri dari 219 rektor, 44 direktur perguruan tinggi, serta 6 ketua perguruan tinggi. Selain itu, terdapat 1.596 dosen, ilmuwan, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta mitra kolaborasi dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kehadiran para pemangku kepentingan di bidang pendidikan dan riset ini diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara teori di bangku kuliah dengan kebutuhan nyata industri nasional. Prabowo berharap sinergi antara pemerintah dan akademisi dapat mempercepat transformasi Indonesia menjadi negara yang berdaulat secara teknologi dan industri.