Ekonomi

Dampak Kenaikan Suku Bunga BI terhadap Laju Penjualan KPR Emiten Properti

12
×

Dampak Kenaikan Suku Bunga BI terhadap Laju Penjualan KPR Emiten Properti

Sebarkan artikel ini
224784e81227e344319431d40e77a63e.jpg
224784e81227e344319431d40e77a63e.jpg

Jakarta – Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen memberikan tekanan signifikan bagi emiten di sektor properti. Kenaikan biaya dana ini memicu kekhawatiran penurunan kinerja keuangan, di mana sejumlah perusahaan pengembang memproyeksikan pendapatan dan laba bersih sepanjang tahun 2026 berpotensi terkoreksi hingga dua digit.

PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menjadi salah satu emiten yang merasakan dampak langsung dari kebijakan moneter tersebut. Direktur Utama CTRA, Candra Ciputra, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan mau tidak mau menekan beban Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang menjadi tulang punggung penjualan properti perseroan.

Meski demikian, manajemen CTRA tetap berupaya menjaga optimisme dengan mengandalkan dukungan insentif pemerintah. Candra berharap kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) dapat menjadi katalis positif untuk menopang daya beli konsumen di tengah tren kenaikan suku bunga.

Direktur CTRA, Nanik J. Santoso, menambahkan bahwa perseroan terpaksa menerapkan strategi penyesuaian harga jual sebagai langkah antisipatif. Menurut Nanik, tidak ada pilihan lain selain menaikkan harga untuk mengembalikan margin ke level normal di tengah dinamika pasar yang menantang.

Kinerja keuangan CTRA pada kuartal pertama 2026 mencerminkan tekanan tersebut, dengan laba bersih yang merosot 21,57 persen menjadi Rp 518,30 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 660,4 miliar. Pendapatan perseroan juga tercatat turun menjadi Rp 2,55 triliun dari angka sebelumnya Rp 2,73 triliun.

Sekretaris Perusahaan CTRA, Aditya Ciputra Sastrawinata, menjelaskan bahwa penurunan pendapatan ini merupakan imbas dari melambatnya pra-penjualan atau marketing sales di segmen residensial. Ia mengakui bahwa penurunan daya beli di segmen menengah ke bawah menjadi faktor utama yang membebani target kinerja tahun ini.

Di sisi lain, PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) juga menghadapi tantangan serupa namun memilih untuk tetap mempertahankan target penjualan. Direktur MTLA, Olivia Surodjo, mengatakan bahwa perseroan berharap pihak perbankan dapat menawarkan skema KPR yang lebih kompetitif, seperti program bunga tetap (fix and cap) guna meringankan beban konsumen.

Hingga saat ini, MTLA belum berencana melakukan revisi terhadap target kinerja tahunan dan terus berupaya mengejar target di tengah kondisi pasar yang dinamis. Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama 2026, MTLA membukukan laba bersih sebesar Rp 62,16 miliar, turun 17,4 persen secara tahunan.

Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, memproyeksikan suku bunga acuan akan tetap berada di kisaran 5,25 persen hingga 5,25 persen sepanjang tahun 2026. Menurutnya, meskipun BI memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneter, langkah tersebut akan dilakukan secara bertahap demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Elandry menilai sektor properti tetap memiliki daya tarik bagi investor yang selektif. Ia menyarankan pelaku pasar untuk melirik emiten dengan cadangan lahan (landbank) yang luas, neraca keuangan yang sehat, serta tingkat marketing sales yang solid.

Dalam rekomendasinya, Elandry menempatkan saham CTRA sebagai pilihan utama dengan target harga di level 800 per saham, didukung oleh stabilitas pendapatan berkelanjutan (recurring income). Selain itu, PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) dan PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) juga dinilai layak dicermati karena kinerja properti investasi dan valuasi yang atraktif.