Ecozone

Mengenali Gejala Awal Neurodivergent pada Anak Sejak Dini

75
×

Mengenali Gejala Awal Neurodivergent pada Anak Sejak Dini

Sebarkan artikel ini
c5d5743e4174f01f9bfed1a4865a3d42.jpg
c5d5743e4174f01f9bfed1a4865a3d42.jpg

Jakarta – Orang tua memegang peranan krusial dalam mendampingi tumbuh kembang anak neurodivergen. Pemahaman mendalam mengenai pola kerja otak yang unik, seperti autisme, ADHD, hingga disleksia, menjadi kunci utama dalam membangun rasa percaya diri dan resiliensi anak sejak dini.

Lead coach sekaligus terapis okupasi, Ries Sansani, mengungkapkan bahwa neurodivergen bukanlah sebuah penyakit atau kerusakan saraf. Kondisi ini merupakan variasi alami dalam cara berpikir, belajar, dan berinteraksi. Langkah pertama yang harus diambil orang tua adalah mengenali gejala awal melalui pengamatan perilaku di rumah.

Menurut Ries, gejala neurodivergen sering kali muncul dalam bentuk hambatan interaksi yang spesifik. Tanda-tanda tersebut bisa berupa minimnya kontak mata, kesulitan fokus, hingga tidak adanya respons timbal balik saat anak diberikan stimulasi sosial atau sapaan sejak usia bayi.

“Salah satu tandanya adalah hambatan bicara dan susah fokus. Kontak mata tidak ada, dan keinginan interaksi anak tidak muncul bahkan ketika kita berikan tantangan,” ujar Ries dalam diskusi media di Jakarta.

Ia menekankan pentingnya validasi dari tenaga profesional untuk memastikan diagnosis yang tepat. Hal ini menjadi fondasi agar orang tua dapat memberikan stimulasi yang sesuai, baik melalui terapi maupun penanganan khusus sebelum anak memasuki jenjang pendidikan formal.

Terkait peluang anak neurodivergen mengenyam pendidikan di sekolah umum, Ries menyatakan bahwa hal tersebut sangat dimungkinkan, terutama bagi anak dengan spektrum ringan yang memiliki kemampuan kognitif baik. Meski demikian, keberhasilan ini membutuhkan modifikasi strategi di kelas.

Penggunaan guru pendamping atau shadow teacher menjadi salah satu solusi efektif. Jika belum memungkinkan, modifikasi lingkungan fisik seperti mengatur posisi duduk di barisan depan serta penyesuaian tata ruang kelas untuk kebutuhan sensorik dapat membantu meminimalkan distraksi dan kelelahan mental pada anak.

Bagi anak dengan spektrum yang lebih berat, Ries menyarankan orang tua agar tidak terpaku pada target akademik formal. Alih-alih memaksakan kapasitas yang tidak sesuai, orang tua diimbau untuk menggali potensi unik anak, misalnya di bidang seni atau keahlian khusus lainnya.

Fokus pada kekuatan anak, bukan kekurangan, diyakini menjadi strategi terbaik untuk membangun kemandirian. Ries juga mengingatkan orang tua untuk menghindari perilaku membandingkan anak dengan saudaranya, mengingat setiap individu memiliki lintasan perkembangan yang berbeda.

Dukungan lingkungan sosial pun menjadi sorotan. Stigma negatif terhadap anak yang mengalami tantrum di ruang publik sering kali menambah beban mental bagi orang tua. Oleh karena itu, membangun ekosistem keluarga yang suportif dan inklusif menjadi tanggung jawab bersama dalam mendukung anak neurodivergen mencapai potensinya secara optimal.