New York, Fenesia.com – Langkah Timnas Brasil di Piala Dunia 2026 terhenti secara mengejutkan setelah takluk 1-2 di tangan Norwegia pada babak 16 besar di New York New Jersey Stadium, Senin (6/7).
Kekalahan ini mencatatkan sejarah kelam bagi Selecao sebagai performa terburuk dalam 36 tahun terakhir di ajang Piala Dunia.
Posisi Carlo Ancelotti sebagai pelatih kepala kini berada di bawah tekanan hebat akibat serangkaian keputusan taktis yang dinilai gagal total pada laga krusial tersebut.
Data statistik Opta menunjukkan Brasil hanya menguasai bola sebesar 34 persen, angka terendah bagi tim peraih lima gelar juara dunia itu sejak tahun 1966.
Dominasi Norwegia terlihat jelas dari catatan operan yang mencapai 680 kali, berbanding jauh dengan Brasil yang hanya mencatatkan 329 operan sepanjang pertandingan.
Sorotan tajam tertuju pada pemilihan Bruno Guimaraes sebagai eksekutor penalti di babak pertama yang gagal membuahkan gol.
Menanggapi keputusan tersebut, Carlo Ancelotti memberikan penjelasan mengenai proses pemilihan algojo timnya dikutip dari pada Senin (6/7/2026).
“Kami menganalisis statistik pemain lawan dan pemain kami selama setahun. Urutannya adalah Neymar, Igor Thiago, Raphinha, lalu Bruno Guimaraes dan Martinelli,” ujar dia.
Ia menambahkan, “Kami memilih Bruno karena menurut kami dia adalah pilihan terbaik yang ada di lapangan.”
Keputusan tersebut menuai kritik keras karena Guimaraes tercatat hanya pernah mengeksekusi tiga penalti sepanjang karier profesionalnya.
Ketidakstabilan taktik semakin terlihat saat Ancelotti memaksakan Gabriel Martinelli bermain di lini tengah pasca-cederanya Lucas Paqueta.
Perubahan komposisi pemain ini dinilai banyak pengamat sepak bola sebagai penyebab hilangnya keseimbangan permainan dan kontrol tempo tim.
Sebelum laga berlangsung, pengamat sepak bola Football Enthusiast Raka Kisdiyatma sempat memberikan analisis mengenai potensi ancaman dari kubu lawan.
“Dan salah satu kunci Norwegia bisa mengalahkan atau setidaknya mengejutkan Brasil adalah bagaimana mereka memaksimalkan serangan balik dan kualitas set piece-nya, karena keunggulan fisik,” kata dia saat berbicara di Podcast Super Taktik Tribunnews.
Prediksi tersebut terbukti akurat ketika Erling Haaland mendominasi lini pertahanan Brasil dan mencetak dua gol penentu kemenangan Norwegia.
Di sisi lain, kehadiran Neymar sebagai pemain pengganti justru memicu polemik baru di tengah masyarakat Brasil.
Penampilan sang bintang di lapangan tak luput dari cibiran di media sosial, terutama karena adanya polarisasi politik yang kuat di negara tersebut.
Beberapa pihak menilai masuknya Neymar justru merusak pola permainan kolektif Brasil karena seluruh pemain terlalu memaksakan aliran bola kepadanya.
Kekalahan ini kini memicu gelombang desakan evaluasi besar-besaran terhadap arah kepemimpinan Ancelotti di kursi kepelatihan Selecao.







