Purwakarta – Lagu berbahasa Sunda berjudul “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” yang dibawakan Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menuai kecaman keras dari warganet di media sosial. Karya tersebut memicu polemik lantaran liriknya dinilai mengandung stereotip negatif yang merendahkan perempuan.
Lagu yang dipopulerkan oleh bupati yang akrab disapa Om Zein ini sejatinya pertama kali diperkenalkan saat rangkaian acara Hajat Bumi di Lingga Mukti. Pada awalnya, lagu tersebut digubah sebagai bentuk ungkapan rasa syukur sang bupati kepada Tuhan atas anugerah yang diterimanya.
Namun, suasana berubah menjadi perdebatan publik setelah potongan lirik lagu tersebut tersebar luas di berbagai platform digital. Banyak pihak melayangkan kritik karena isi lagu dianggap memuat candaan yang sangat sensitif terkait pengalaman biologis perempuan.
Sejumlah bait dalam lagu tersebut dinilai menempatkan laki-laki di posisi yang lebih superior dengan cara merendahkan kondisi yang dialami perempuan. Hal ini memicu diskusi mengenai batasan antara humor, kebebasan berekspresi dalam seni, serta etika penghormatan terhadap kaum perempuan.
Berikut adalah lirik lagu “Lalaki Langit, Lalanang Bejat” yang menjadi sorotan:
Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
Cacak mun jadi awewe (Andai saja jadi perempuan)
ES-Em-Pe kelas tilu (SMP kelas tiga)
Tos Karuron tujuh kali (Sudah keguguran tujuh kali)
Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
Teu Kudu Meuli Kutang (Tidak usah membeli bra)
Nu busana leuwih gede batan susu (Yang busanya lebih besar daripada payudara)
Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek (Tidak usah keluyuran mencari apotek)
Alatan telat bulan (Karena telat bulan/datang bulan)
Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku jadi laki-laki)
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata (Tidak usah melukis alis dan bulu mata)
Sakalina ngiceup hese beunta (Yang sekali berkedip susah melek)
Lalaki langit (Lelaki langit)
Lalanang bejad (Lelaki bejat)
Lirik tersebut menjadi subjek diskusi luas karena dianggap menyinggung persoalan biologis perempuan, mulai dari masalah kehamilan, menstruasi, hingga penggunaan atribut perempuan sebagai materi komedi. Banyak warganet menilai bahwa pesan yang disampaikan berpotensi memperkuat stereotip gender yang tidak menghormati kaum perempuan.







