Jakarta – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan menekankan urgensi perbaikan sistemik dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Evaluasi tersebut menyoroti pentingnya perencanaan yang matang agar implementasi di lapangan tidak menemui kendala teknis yang seharusnya dapat dihindari.
Luhut menyatakan bahwa DEN telah terlibat aktif dalam proses evaluasi program tersebut. Pihaknya telah memberikan sejumlah masukan strategis kepada tim pelaksana untuk memastikan program berjalan sesuai target.
Menurut Luhut, saat ini banyak energi dan waktu terbuang untuk memperbaiki persoalan teknis yang sebenarnya bisa dicegah jika perencanaan dilakukan secara komprehensif sejak awal. Ia mencontohkan kendala yang terjadi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Luhut mengatakan, pihaknya sering kali menghabiskan waktu untuk berdebat mengenai hal-hal yang tidak perlu terjadi. Hal tersebut, menurutnya, adalah konsekuensi jika perencanaan dan studi awal tidak dilakukan secara proper atau mendalam.
Pernyataan tersebut disampaikan Luhut di kantornya, Jakarta, Kamis (25/6). Ia menegaskan bahwa tantangan utama dalam setiap program strategis pemerintah bukan terletak pada kualitas gagasan, melainkan pada kesiapan desain implementasi.
Luhut secara terbuka mengakui bahwa ide-ide besar Presiden Prabowo Subianto memerlukan dukungan perencanaan yang matang agar efektif. Ia menyebut ketidaksiapan perencanaan tersebut merupakan tanggung jawab bersama seluruh jajaran pelaksana.
Luhut mengingatkan bahwa Indonesia berada dalam rentang waktu krusial untuk memanfaatkan bonus demografi. Momentum ini diprediksi akan berakhir pada periode 2038 hingga 2040 mendatang.
Jika momentum tersebut gagal dimanfaatkan secara maksimal, Indonesia berisiko terjebak dalam jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap. Kondisi tersebut dipastikan akan membuat tantangan pembangunan di masa depan menjadi jauh lebih berat bagi siapapun pemimpinnya.
Meskipun perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI), robotika, dan humanoid dipandang dapat meningkatkan produktivitas, Luhut menegaskan bahwa teknologi bukan satu-satunya solusi. Fokus utama harus tetap pada kekompakan seluruh elemen bangsa dalam menjalankan program strategis nasional.
Luhut mengajak semua pihak untuk bersatu demi mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Ia menekankan bahwa setiap permasalahan yang muncul di lapangan harus diselesaikan melalui kolaborasi pencarian solusi, bukan dengan saling menyalahkan antarinstansi.
Sebagai langkah konkret, DEN telah melakukan studi lapangan di sekitar 800 titik di seluruh Indonesia. Data dari hasil studi tersebut kini digunakan sebagai basis rekomendasi kebijakan agar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis lebih terukur.
Hasil studi tersebut menjadi acuan bagi DEN dalam merumuskan alternatif kebijakan yang paling efektif bagi setiap wilayah. Luhut memastikan bahwa basis studi tersebut akan mempermudah pemerintah dalam menentukan solusi terbaik bagi masyarakat di berbagai daerah.







