Teheran – Pemerintah Iran secara resmi memutuskan untuk kembali menutup Selat Hormuz bagi seluruh aktivitas pelayaran internasional. Kebijakan strategis ini diambil sebagai bentuk respons langsung atas serangan militer yang dilancarkan Israel terhadap Lebanon pada Jumat (19/6).
Pihak otoritas Iran menilai tindakan militer Israel tersebut merupakan bentuk pelanggaran nyata terhadap kesepakatan damai yang sebelumnya telah dimediasi oleh Amerika Serikat. Penutupan jalur perairan vital ini ditegaskan sebagai langkah tegas yang akan terus dipertahankan sampai pihak terkait memenuhi seluruh poin dalam perjanjian perdamaian.
Komando Militer Pusat Khatam-al Anbiya melalui pernyataannya menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz adalah konsekuensi logis dari pelanggaran perjanjian tersebut. Pihaknya juga memberikan peringatan keras bahwa langkah-langkah lanjutan yang lebih drastis akan segera diambil jika serangan terus berlanjut.
Situasi di Lebanon sendiri dilaporkan semakin memburuk akibat eskalasi konflik yang terjadi. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon, akumulasi serangan Israel yang berlangsung sejak 2 Maret 2026 telah menelan korban jiwa sebanyak 4.057 orang.
Angka tersebut mencakup 135 petugas kesehatan yang gugur saat menjalankan tugas kemanusiaan. Selain itu, tercatat sebanyak 12.121 orang mengalami luka-luka akibat rangkaian serangan yang terjadi selama kurun waktu tersebut.
Pada insiden serangan terbaru yang berlangsung hari Jumat lalu, tercatat 83 orang dilaporkan meninggal dunia dan 141 orang lainnya mengalami cedera. Mayoritas korban jiwa dalam serangan terakhir ini terkonsentrasi di wilayah Selatan Lebanon.
Ketegangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang sedang berlangsung. Sebelumnya, Israel diketahui sedang melakukan negosiasi intensif dengan Amerika Serikat terkait rencana mempertahankan posisi pasukan mereka di wilayah Lebanon selatan.
Negosiasi tersebut berlangsung tepat satu hari setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati perjanjian sementara. Kesepakatan itu secara spesifik menyerukan penghormatan penuh terhadap kedaulatan serta integritas wilayah Lebanon.
Namun, posisi Israel tampaknya bertolak belakang dengan semangat kesepakatan tersebut. Seorang pejabat senior Israel yang memiliki kedekatan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa pemerintahnya tidak memiliki rencana untuk menarik pasukan dari wilayah yang saat ini telah dikuasai.
Ketidaksinkronan antara komitmen diplomatik dan tindakan militer di lapangan ini memicu reaksi keras dari Teheran. Penutupan Selat Hormuz dipandang sebagai instrumen tekanan Iran untuk memaksa pihak-pihak yang terlibat agar kembali mematuhi koridor perjanjian damai yang telah disepakati sebelumnya.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi lebih lanjut mengenai durasi penutupan jalur maritim strategis tersebut. Komunitas internasional kini menanti respons lanjutan dari pihak-pihak terkait dalam upaya meredam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang kembali memanas.







