Ecozone

INTA Perkuat Bisnis Alat Berat, Pangkas Utang, dan Pacu Pendapatan

12
×

INTA Perkuat Bisnis Alat Berat, Pangkas Utang, dan Pacu Pendapatan

Sebarkan artikel ini
1bed1c6408f1913bb646ade9a77de23a.jpg
1bed1c6408f1913bb646ade9a77de23a.jpg

Jakarta – PT Intraco Penta Tbk (INTA) menetapkan strategi baru untuk memperkuat kinerja perusahaan di tengah dinamika industri alat berat yang terus berubah. Perseroan memutuskan untuk memprioritaskan perbaikan struktur keuangan, akselerasi pelunasan utang, serta pengembangan bisnis penyewaan alat berat sebagai pilar pendapatan yang lebih stabil.

Langkah ini diambil setelah pemegang saham menyetujui seluruh agenda dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan di INTA Building, Jakarta, pada Jumat (19/6/2026). Dalam forum tersebut, pemegang saham mengesahkan laporan tahunan dan keuangan tahun buku 2025, penetapan remunerasi bagi Direksi dan Dewan Komisaris, serta penunjukan akuntan publik untuk tahun buku 2026. Selain itu, rapat juga menyepakati perubahan anggaran dasar yang menyesuaikan dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) 2025.

Direktur Utama PT Intraco Penta Tbk, Petrus Halim, menegaskan bahwa perseroan akan terus melanjutkan transformasi bisnis dengan mengedepankan disiplin pengelolaan risiko serta menjaga fundamental usaha. Menurutnya, perusahaan tetap berkomitmen menjalankan strategi bisnis yang pruden, adaptif, dan berorientasi pada keberlangsungan jangka panjang.

Berdasarkan laporan keuangan tahun 2025, INTA mencatatkan pendapatan usaha konsolidasian sebesar Rp 966,92 miliar. Angka tersebut mencatatkan kenaikan tipis dibandingkan perolehan pada tahun sebelumnya yang berada di posisi Rp 954,68 miliar.

Manajemen juga berhasil menekan kerugian bersih tahun berjalan secara signifikan. Rugi bersih perseroan turun menjadi Rp 81,09 miliar, jauh lebih baik dibandingkan catatan rugi bersih pada tahun 2024 yang mencapai Rp 117,84 miliar. Capaian ini merupakan hasil dari efisiensi operasional, penguatan tata kelola, optimalisasi portofolio, serta pengembangan segmen usaha yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.

Memasuki tahun 2026, INTA berencana memperkuat basis pelanggan melalui pendekatan key account dan penjualan berbasis proyek. Strategi ini diharapkan mampu meningkatkan kontribusi penjualan dari pelanggan strategis di sektor industri yang menjadi pasar utama perseroan.

Selain fokus pada penjualan unit, perusahaan juga akan memperbesar kontribusi dari bisnis rental alat berat melalui anak usahanya. Segmen ini dipandang memiliki peluang besar untuk menjadi penopang pendapatan yang lebih konsisten dibandingkan bisnis penjualan yang sangat bergantung pada fluktuasi siklus industri.

Terkait kebijakan investasi, perseroan menerapkan belanja modal atau capital expenditure (CAPEX) yang selektif. Alokasi investasi hanya akan diarahkan pada aset yang mendukung bisnis inti serta memberikan nilai tambah nyata terhadap kinerja perusahaan.

Sebagai perusahaan yang telah beroperasi lebih dari lima dekade, INTA terus mengembangkan portofolio bisnis yang mencakup distribusi alat berat, layanan purna jual, manufaktur, konstruksi, hingga pembangkit listrik. Melalui anak usahanya, PT Intraco Penta Prima Servis (IPPS) dan PT Intraco Penta Wahana (IPW), perseroan menjalankan distribusi alat berat dengan menggandeng prinsipal global seperti LiuGong, Sino Howo, Doosan, Techking, dan Blumaq.

Pada tahun 2025, INTA memperkuat kerja sama strategis dengan Sinotruk Indonesia dan Techking Tires. Perseroan juga mencatatkan prestasi dengan meraih tiga penghargaan dalam LiuGong Global Dealer Conference 2025 untuk kategori Excellence in Mining Truck Business, Excellence in Spare Parts Business, serta Excellence in Branding.

Ke depan, INTA akan memprioritaskan pengembangan pasar di sektor pertambangan, khususnya batubara dan nikel. Perseroan juga berencana memperluas penetrasi ke sektor agribisnis, minyak dan gas, infrastruktur, konstruksi, serta industri umum guna menjaga pertumbuhan bisnis yang lebih berkelanjutan.

002e0950eefc5438da0f58d1021e7c4f.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren penurunan harga minyak dunia yang terjadi akhir-akhir ini di atas kertas berpotensi memengaruhi kelangsungan usaha emiten-emiten jasa minyak dan gas (migas). Namun, hal itu bukan berarti kinerja emiten di sektor tersebut bakal melemah begitu saja. Mengutip Trading Economics, harga minyak dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) telah terkoreksi 21,30% dalam sebulan terakhir ke level US$ 77,33 per barel pada Jumat…

83bfbefc03bcebd9b5529ad99d679850.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) bakal melakukan transformasi bisnis melalui rencana penjualan aset hotelnya di kawasan Majalengka, Jawa Barat, dan beralih ke industri jasa pertambangan nikel. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), FITT berencana menjual sebanyak 549.999 saham (99,99%) atas kepemilikannya di PT Bumi Majalengka Permai (BMP) kepada PT Berkarya Bersama Servindo (BSS). BMP…

d85d9464b86051842348d9feb45193ca.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki obligasi jatuh tempo paruh kedua 2026. Era suku bunga tinggi dan lesunya rupiah pun menjadi tantangan bagi mereka dalam menuntaskan kewajibannya tersebut. Dalam catatan Kontan, Pefindo mencatat bahwa total surat utang korporasi yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp162,72 triliun. Surat utang korporasi yang jatuh tempo kuartal III sebesar Rp63,95 triliun dan kuartal…

446b0adeec150b3f3584f02bedaefa3b.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis pada akhir pekan lalu. IHSG naik 0,08% ke level 6.177,14 pada perdagangan Jumat (19/6/2026), setelah bergerak cenderung sideways sepanjang sesi. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai pergerakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. “IHSG bergerak konsolidasi, namun respons investor terhadap laporan MSCI 2026 Global…

7b15c5110d4b73df74793fb55bf7282a.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan harga emas dan perak masih menghadapi tekanan seiring sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar saat ini lebih memperhatikan arah kebijakan suku bunga dibandingkan meredanya ketegangan geopolitik global. Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (19/6/2026), harga emas spot terkoreksi 1,66% dalam sepekan ke level US$ 4.151 per ons troi. Dalam sebulan…