Ecozone

Jejak Anak Usaha Pertamina Tugu Insurance di Proyek Blok Masela

8
×

Jejak Anak Usaha Pertamina Tugu Insurance di Proyek Blok Masela

Sebarkan artikel ini
Logo Tugu Insurance dan ilustrasi fasilitas kilang minyak di lepas pantai
Tugu Insurance resmi memimpin konsorsium asuransi untuk proyek strategis nasional Blok Masela.

Jakarta – PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU) resmi memimpin konsorsium asuransi untuk proyek strategis nasional Lapangan Gas Abadi di Blok Masela dengan nilai investasi mencapai US$ 20,9 miliar atau setara Rp 355 triliun, pada Jumat (7/8/2026).

Dilansir dari MSN, emiten asuransi milik PT Pertamina ini ditunjuk oleh SKK Migas untuk mengoordinasikan perlindungan risiko bagi proyek hulu migas yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE).

Direktur Teknik Tugu Insurance, Fadlil Iswahyudi menyatakan bahwa perusahaan berperan sebagai pemimpin konsorsium untuk memastikan seluruh anggota dapat bekerja secara terintegrasi dalam mengelola risiko proyek berskala masif tersebut.

“Tugas Tugu sebagai leader adalah mengoordinasikan seluruh anggota konsorsium, supaya semuanya bisa berjalan dengan baik,” kata Fadlil.

Ia menjelaskan bahwa Blok Masela memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi dan berpotensi menjadi salah satu proyek offshore terbesar di dunia.

Besarnya nilai aset yang harus dilindungi dalam proyek ini melampaui kapasitas pasar asuransi offshore global yang rata-rata hanya berkisar antara US$ 5 miliar hingga US$ 6 miliar.

Tugu Insurance harus menggabungkan kapasitas dari berbagai perusahaan asuransi serta reasuransi internasional untuk memenuhi kebutuhan perlindungan proyek tersebut.

“Jadi kapasitas dari berbagai perusahaan di seluruh dunia akan dikumpulkan untuk meng-cover proyek Masela,” kata Fadlil.

Blok Masela direncanakan memproduksi sekitar 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta kaki kubik gas untuk kebutuhan domestik harian, serta 35 ribu barel kondensat per hari.

Infrastruktur utama proyek ini meliputi sumur gas di dasar Laut Arafura yang terhubung ke fasilitas Floating Production, Storage and Offloading (FPSO) melalui jaringan pipa bawah laut.

Pemerintah memproyeksikan proyek ini mampu memberikan penerimaan langsung kepada negara sebesar US$ 37,8 miliar atau setara Rp 680,8 triliun.

Kontribusi ekonomi secara luas diprediksi mencapai US$ 137,8 miliar bagi perekonomian nasional, termasuk peningkatan PDRB Provinsi Maluku dan Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Tren pertumbuhan asuransi energi di Indonesia juga mencatatkan kinerja positif dengan kenaikan premi asuransi energi offshore sebesar 18% secara tahunan hingga kuartal ketiga 2025.

Sektor asuransi energi onshore pun menunjukkan pertumbuhan serupa sebesar 18,4% pada periode yang sama.

Laju pertumbuhan tersebut melampaui rata-rata industri asuransi umum yang hanya berada di angka 4,8%.

Kondisi ini didorong oleh peningkatan nilai investasi pada proyek hulu migas serta perbaikan disiplin underwriting di dalam industri asuransi.

Pemerintah sendiri telah meningkatkan target wilayah kerja migas menjadi 110 blok pada 2026 sebagai upaya memperkuat ketahanan energi nasional.

Investasi hulu migas ditargetkan mencapai US$ 16 miliar pada tahun ini untuk mendukung target produksi minyak sebesar 610 ribu barel per hari.