Ecozone

Harga Minyak Anjlok 23 Persen, Simak Prospek Saham Jasa Migas

8
×

Harga Minyak Anjlok 23 Persen, Simak Prospek Saham Jasa Migas

Sebarkan artikel ini
002e0950eefc5438da0f58d1021e7c4f.jpg
002e0950eefc5438da0f58d1021e7c4f.jpg

Jakarta – Tren pelemahan harga minyak mentah dunia yang terjadi belakangan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek bisnis emiten jasa minyak dan gas (migas). Meski demikian, para analis menilai penurunan harga tersebut tidak serta-merta akan melemahkan kinerja fundamental emiten di sektor ini dalam waktu dekat.

Data Trading Economics menunjukkan harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi sebesar 21,30 persen dalam sebulan terakhir menjadi US$ 77,33 per barel per Jumat (19/6/2026). Pada periode yang sama, harga minyak Brent juga tercatat menyusut 23,26 persen ke level US$ 80,59 per barel.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, menilai penurunan harga tersebut merupakan imbas dari meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah. Kendati begitu, ia menegaskan bahwa dampak penurunan harga komoditas tidak akan langsung dirasakan oleh emiten jasa migas.

Hal ini disebabkan oleh durasi kontrak pengeboran atau aktivitas pendukung migas yang umumnya berjangka panjang, yakni antara satu hingga tiga tahun. Menurut Wafi, tekanan terhadap margin keuntungan perusahaan baru akan benar-benar terasa ketika tiba saatnya melakukan pembaruan atau perpanjangan kontrak.

Wafi menambahkan bahwa aktivitas produksi migas masih dinilai ekonomis selama harga minyak mentah berada di kisaran US$ 77 hingga US$ 80 per barel. Risiko nyata bagi kinerja keuangan emiten baru akan muncul apabila harga minyak turun di bawah level US$ 70 per barel, yang berpotensi memicu pemangkasan belanja modal oleh Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) serta perlambatan aktivitas pengeboran.

Senada dengan hal tersebut, Pengamat Pasar Modal dan Founder Sekolah Saham Indonesia, Raden Bagus Bima, berpendapat bahwa koreksi harga saat ini belum menjadi sinyal berakhirnya siklus positif di sektor migas. Aktivitas hulu migas, menurutnya, lebih banyak ditentukan oleh Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) jangka menengah dan panjang masing-masing perusahaan.

Selama harga minyak masih berada di atas level aman dan pemerintah terus mendorong peningkatan lifting minyak nasional, permintaan terhadap jasa pengeboran, workover, well services, serta offshore support tetap memiliki potensi pertumbuhan. Raden meyakini emiten seperti PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Radiant Utama Interinsco Tbk (RUIS), dan PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX) memiliki prospek kinerja yang relatif positif jika didukung oleh order book yang kuat dan kontrak jangka panjang.

Namun, Raden mengingatkan adanya tantangan nyata terkait potensi penundaan proyek eksplorasi berisiko tinggi apabila pelemahan harga minyak terus berlanjut. Emiten disarankan untuk fokus pada peningkatan utilisasi aset, efisiensi operasional, serta diversifikasi layanan guna menjaga stabilitas margin laba.

Investasi pada peralatan pengeboran dinilai tetap relevan, namun harus dilakukan secara selektif dengan memperhatikan visibilitas permintaan. Perusahaan yang memiliki basis pelanggan kuat dan lebih banyak berfokus pada aktivitas pemeliharaan produksi dibandingkan eksplorasi murni diprediksi lebih mampu bertahan.

Untuk saat ini, Raden menyarankan investor untuk melakukan sikap wait and see terhadap saham-saham sektor jasa migas karena konsentrasi pasar yang tengah menurun. Sementara itu, Wafi tetap menempatkan saham ELSA sebagai salah satu pilihan unggulan berkat dukungan kontrak dari Pertamina dan valuasi yang dianggap wajar. Sebaliknya, ia mencatat bahwa RUIS dan APEX memiliki risiko lebih tinggi terhadap pemangkasan belanja modal KKKS. Secara keseluruhan, subsektor jasa migas dinilai masih menarik untuk cakrawala investasi 12 bulan ke depan, dengan catatan harga minyak mampu bertahan stabil di atas US$ 70 per barel.

1bed1c6408f1913bb646ade9a77de23a.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Intraco Penta Tbk (INTA) mulai memperkuat strategi bisnis untuk meningkatkan kinerja di tengah tantangan industri alat berat yang masih dinamis. Perseroan akan fokus memperbaiki struktur keuangan, mempercepat pelunasan utang, serta mengembangkan bisnis rental alat berat sebagai sumber pendapatan yang lebih stabil. Strategi tersebut disampaikan manajemen setelah pemegang saham INTA menyetujui seluruh agenda dalam Rapat…

83bfbefc03bcebd9b5529ad99d679850.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Hotel Fitra International Tbk (FITT) bakal melakukan transformasi bisnis melalui rencana penjualan aset hotelnya di kawasan Majalengka, Jawa Barat, dan beralih ke industri jasa pertambangan nikel. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), FITT berencana menjual sebanyak 549.999 saham (99,99%) atas kepemilikannya di PT Bumi Majalengka Permai (BMP) kepada PT Berkarya Bersama Servindo (BSS). BMP…

d85d9464b86051842348d9feb45193ca.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki obligasi jatuh tempo paruh kedua 2026. Era suku bunga tinggi dan lesunya rupiah pun menjadi tantangan bagi mereka dalam menuntaskan kewajibannya tersebut. Dalam catatan Kontan, Pefindo mencatat bahwa total surat utang korporasi yang jatuh tempo pada 2026 mencapai Rp162,72 triliun. Surat utang korporasi yang jatuh tempo kuartal III sebesar Rp63,95 triliun dan kuartal…

446b0adeec150b3f3584f02bedaefa3b.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis pada akhir pekan lalu. IHSG naik 0,08% ke level 6.177,14 pada perdagangan Jumat (19/6/2026), setelah bergerak cenderung sideways sepanjang sesi. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai pergerakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. “IHSG bergerak konsolidasi, namun respons investor terhadap laporan MSCI 2026 Global…

7b15c5110d4b73df74793fb55bf7282a.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan harga emas dan perak masih menghadapi tekanan seiring sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar saat ini lebih memperhatikan arah kebijakan suku bunga dibandingkan meredanya ketegangan geopolitik global. Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (19/6/2026), harga emas spot terkoreksi 1,66% dalam sepekan ke level US$ 4.151 per ons troi. Dalam sebulan…