Ecozone

Defisit APBN Menyusut Menjadi Rp164,4 Triliun pada April 2026

8
×

Defisit APBN Menyusut Menjadi Rp164,4 Triliun pada April 2026

Sebarkan artikel ini
050d7dd447e145b01e59f3c696e47118.jpg
050d7dd447e145b01e59f3c696e47118.jpg

Jakarta – Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir April 2026 berhasil ditekan menjadi Rp 164,4 triliun. Angka ini mencerminkan perbaikan fiskal yang signifikan dibandingkan catatan defisit pada Maret 2026 yang sempat menyentuh Rp 240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebutkan bahwa posisi defisit saat ini setara dengan 0,64 persen dari PDB. Selain penurunan defisit, pemerintah juga mencatatkan surplus pada keseimbangan primer sebesar Rp 28 triliun.

Purbaya optimistis kondisi kesehatan APBN akan terus menguat seiring dengan tren peningkatan pendapatan negara. Hingga 30 April 2026, realisasi pendapatan negara telah mencapai Rp 918,4 triliun atau 29,1 persen dari target total Rp 3.153,6 triliun.

Secara tahunan (year on year), pendapatan negara menunjukkan pertumbuhan impresif sebesar 13,3 persen. Capaian ini menjadi sinyal positif jika dibandingkan dengan periode April 2025 yang sempat terkontraksi hingga 12,4 persen.

Sektor perpajakan menjadi motor penggerak utama dengan kontribusi sebesar Rp 746,9 triliun atau 27,7 persen dari target tahunan. Penerimaan sektor pajak ini tercatat tumbuh sebesar 13,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Di sisi lain, pemerintah tetap menjaga akselerasi belanja untuk mendukung kebutuhan nasional. Realisasi belanja negara per 30 April 2026 tercatat sebesar Rp 1.082,8 triliun, atau 28,2 persen dari pagu anggaran sebesar Rp 3.842,7 triliun. Angka belanja tersebut menunjukkan pertumbuhan 34,3 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

ba1f0d2b59dd4b6c9d8c4ec918fefd63.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali tertekan dan menembus level Rp 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS), mencetak rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (19/5/2026). Di tengah tekanan terhadap mata uang domestik tersebut, sejumlah aset kripto alternatif (altcoin) justru mencatat penguatan signifikan. Baca Juga: Melihat Arah Saham CPO dan Batubara di tengah Rumor Badan Ekspor Komoditas Berdasarkan data CoinGecko,…

a1416c131a7b1b0db9ff437599c32139.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Peta kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) berubah drastis dalam beberapa bulan terakhir. Setelah sempat dikuasai saham konglomerasi, posisi saham dengan market cap terbesar kini kembali ditempati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Per Selasa (19/5/2026), tidak ada lagi saham di BEI yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 1.000 triliun. Padahal pada penutupan 2025, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)…