Ecozone

Climate Group Sebut Indonesia Punya Peluang Percepat Transisi Energi Terbarukan

15
×

Climate Group Sebut Indonesia Punya Peluang Percepat Transisi Energi Terbarukan

Sebarkan artikel ini
bcfdffa1154f06333336ab77dac15a43.jpg
bcfdffa1154f06333336ab77dac15a43.jpg

Singapura – Climate Group menyoroti hambatan regulasi yang masih menyulitkan perusahaan di Indonesia untuk beralih sepenuhnya ke energi terbarukan. Meski potensi pasar sangat besar, kebijakan subsidi energi fosil dan terbatasnya akses terhadap jaringan listrik menjadi ganjalan utama bagi implementasi inisiatif RE100 di Tanah Air.

Director of Energy Climate Group, Sam Kimmins, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 133 perusahaan internasional anggota RE100 yang beroperasi di Indonesia. Inisiatif ini mendorong perusahaan berkomitmen menggunakan 100 persen listrik dari sumber terbarukan demi menekan emisi karbon.

Kimmins menjelaskan, kendala utama yang dihadapi adalah ketiadaan mekanisme yang mengizinkan produsen energi terbarukan independen menjual listrik langsung ke korporasi melalui jaringan PT PLN (Persero). Padahal, skema perjanjian pembelian listrik atau power purchase agreement (PPA) sangat krusial untuk menekan biaya sekaligus menarik minat investasi swasta.

Menurutnya, Climate Group saat ini tengah mendiskusikan skema penggunaan jaringan bersama atau wheeling dengan pemerintah Indonesia. Melalui model ini, pengembang independen dapat menyalurkan listrik bersih kepada pelanggan korporasi menggunakan transmisi PLN. Skema tersebut dinilai menguntungkan karena PLN tetap mendapatkan pendapatan dari jasa transmisi, sementara pelaku usaha memperoleh kepastian pasokan energi hijau.

Selain akses jaringan, Kimmins juga menyoroti kebijakan subsidi energi fosil yang masih mendominasi pasar Indonesia. Subsidi tersebut dinilai membuat harga energi konvensional tampak lebih murah, sehingga menghambat daya saing energi terbarukan di pasar domestik.

Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak menuntut adanya subsidi tambahan untuk energi terbarukan. Sebaliknya, Climate Group mendorong pemerintah untuk membuka akses pasar secara kompetitif sehingga energi bersih dapat bersaing secara alami tanpa terdistorsi oleh dukungan fiskal pada sistem energi lama.

Untuk memuluskan langkah tersebut, Climate Group menggandeng Institute for Essential Services Reform (IESR) sebagai mitra lokal. Peran IESR sangat penting untuk menjembatani komunikasi dengan pemangku kebijakan, mengingat pemerintah Indonesia dinilai cukup terbuka dalam pembahasan mengenai pengembangan energi terbarukan dan mekanisme investasi hijau.

a3cf670222d28bd25724ab7153b30cee.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Harga logam industri melanjutkan tren penguatan sejak awal tahun 2026. Kenaikan terjadi pada sejumlah komoditas utama seperti aluminium, timah, dan nikel, didorong kombinasi ketatnya pasokan global, kebijakan produksi negara produsen, hingga ekspektasi pelonggaran suku bunga dunia. Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (22/5/2026), harga aluminium naik 0,35% secara harian menjadi US$ 3.650 per ton dan telah…

922265d1500f3a5e0f13f8968786dcbe.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan depan diproyeksikan akan kembali tertekan lantaran hasil kocok ulang FTSE Indonesia. Jumat (24/5/2026), IHSG ditutup di level 6.162,04 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). IHSG mengakumulasi penurunan 8,35% dalam sepekan. Jika ditarik lebih jauh lagi, penurunan IHSG sudah 18,48% dalam sebulan terakhir. Sejak awal tahun, penurunannya sudah 28,74%…

318ebc2b448acee9974e9ceafc2d3828.jpg
Ecozone

Fenesia – JAKARTA. Reli harga logam industri sejak awal tahun 2026 diperkirakan masih berlanjut hingga kuartal III-2026. Penguatan harga aluminium, timah, dan nikel ditopang kombinasi pemulihan manufaktur global serta gangguan pasokan struktural di sejumlah negara produsen utama. Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (22/5/2026), harga aluminium naik 0,35% secara harian menjadi US$ 3.650 per ton dan telah melesat 47,67% secara year…