Jakarta, Fenesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual yang cukup tajam pada penutupan perdagangan Rabu (8/7) dengan mencatatkan pelemahan sebesar 1,89 persen atau setara 113,125 poin ke level 5.873,372.
Sentimen negatif yang melanda pasar domestik ini dipicu oleh dominasi aksi jual investor di berbagai sektor utama yang menyebabkan indeks gagal mempertahankan posisi di zona hijau.
Data perdagangan dari RTI menunjukkan bahwa mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia mengalami tekanan dengan total 482 saham ditutup di zona merah.
Sebaliknya, hanya terdapat 191 saham yang mampu bertahan di zona penguatan di tengah kondisi pasar yang sedang mengalami volatilitas tinggi.
Sebanyak 116 saham lainnya terpantau bergerak stagnan sepanjang sesi perdagangan hingga bel penutupan dibunyikan.
Aktivitas perdagangan pada hari ini tergolong sangat aktif dengan mencatatkan volume transaksi mencapai 22,696 miliar lembar saham.
Nilai transaksi atau turnover yang dibukukan oleh pasar mencapai angka Rp 10,548 triliun.
Frekuensi perdagangan yang terjadi di pasar modal hari ini tercatat sebanyak 1.973.099 kali transaksi.
Akibat koreksi signifikan tersebut, total kapitalisasi pasar IHSG ditutup di level Rp 10.299,302 triliun.
Penurunan IHSG ini sejalan dengan dinamika pasar saham di kawasan Asia yang cenderung bergerak variatif pada penutupan sore ini.
Indeks Nikkei 225 di Tokyo menjadi salah satu indeks dengan penurunan terdalam setelah rontok hingga 2,11 persen ke level 66.819,000.
Tekanan juga dirasakan di pasar saham China dengan Shanghai Composite Index yang melemah 0,49 persen ke level 3.970,879.
Namun, kondisi berbeda justru terjadi di bursa saham Hong Kong yang mencatatkan kinerja positif dengan penguatan Indeks Hang Seng sebesar 2,99 persen ke level 24.199,460.
Sentimen positif juga menular ke bursa Singapura, di mana Straits Times Index berhasil ditutup menguat 0,51 persen ke posisi 5.369,569.
Analis pasar modal mencatat bahwa pergerakan IHSG yang anjlok ini mencerminkan adanya ketidakpastian global yang masih membayangi arus modal masuk ke pasar negara berkembang.
Para investor saat ini cenderung bersikap defensif guna mengantisipasi berbagai data ekonomi makro yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Volume transaksi yang tinggi menunjukkan bahwa pelaku pasar sedang melakukan rebalancing portofolio secara agresif sebagai respons terhadap fluktuasi indeks global.
Kondisi pasar yang melemah ini juga menuntut kewaspadaan lebih bagi para investor ritel dalam menentukan titik masuk saham di tengah tren koreksi teknikal yang sedang berlangsung.
Secara fundamental, para pelaku pasar saat ini masih menunggu katalis baru yang dapat memicu pembalikan arah atau rebound pada perdagangan sesi esok hari.







