Pemerintahan

Bupati Purwakarta Om Zein Sampaikan Permintaan Maaf Terkait Lirik Lagu

10
×

Bupati Purwakarta Om Zein Sampaikan Permintaan Maaf Terkait Lirik Lagu

Sebarkan artikel ini
7ecc52fe97c026629d75e391aa16b139.jpg
7ecc52fe97c026629d75e391aa16b139.jpg

Purwakarta – Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka menyusul polemik yang menyelimuti karya musik ciptaannya berjudul Lalaki Langit, Lalanang Bejat.

Lagu berbahasa Sunda tersebut menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan karena dianggap memuat narasi patriarkal yang merendahkan martabat perempuan.

Respons publik yang meluas membuat pria yang akrab disapa Om Zein ini harus memberikan klarifikasi resmi guna meredam kegaduhan yang terjadi di masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Om Zein pada Kamis (2/7) di tengah sorotan tajam terhadap lirik yang dinilai kontroversial dan tidak patut dikeluarkan oleh seorang pejabat publik.

Om Zein menegaskan bahwa karya tersebut bukanlah bentuk serangan atau upaya merendahkan kaum perempuan sebagaimana yang dituduhkan banyak pihak.

Ia menjelaskan bahwa lagu dan puisi tersebut merupakan bentuk otokritik personal yang ia tulis beberapa tahun silam, tepatnya pada tahun 2020.

Menurut pengakuannya, lirik lagu tersebut adalah refleksi atas perilaku dirinya sendiri di masa lalu yang ia anggap kurang baik.

“Itu puisi dan lagu diciptakan tahun 2020, bercerita tentang diri saya sendiri. Berawal dari renungan atas perilaku saya sendiri yang menurut saya saat itu saya nakal,” ujar Om Zein dalam keterangan resminya, Kamis (2/7).

Ia menambahkan bahwa lirik tersebut merupakan kejujuran atas ketidaksempurnaan hidupnya sekaligus menjadi medium kontemplasi spiritual pribadi.

“Saya bersyukur Tuhan menciptakan saya jadi lelaki. Mungkin jika saya diciptakan jadi perempuan, terjadi apa yang saya pikirkan karena saya belum bisa menjaga diri,” lanjutnya.

Meskipun bersikeras bahwa karyanya murni lahir dari proses introspeksi, Om Zein menyadari bahwa masyarakat memiliki perspektif yang berbeda dalam memaknai lirik tersebut.

Sebagai pemimpin daerah, ia memilih untuk bersikap responsif terhadap kritik dan menyampaikan permohonan maaf kepada pihak-pihak yang merasa tidak nyaman.

“Saya mohon maaf jika ada pihak yang merasa tidak nyaman dengan lirik lagu itu. Namun tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu. Itu murni cerita tentang diri saya sendiri,” tegasnya.

Ia berharap klarifikasi ini dapat menjernihkan suasana dan menegaskan bahwa lagu tersebut tidak memiliki sentimen negatif terhadap pihak mana pun.

Kritik keras sebelumnya datang dari Anggota Komisi VIII DPR RI, Atalia Praratya, yang menyoroti diksi dalam karya tersebut melalui akun media sosial pribadinya.

Atalia menilai bahwa isi lagu tersebut sudah menyentuh ranah biologis perempuan dan melanggengkan stereotipe negatif yang mencederai nilai luhur budaya Sunda.

“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia lewat akun Instagram miliknya.

Legislator yang fokus pada isu perempuan dan anak ini menekankan bahwa budaya Sunda seharusnya menjunjung tinggi nilai silih asih, silih asah, silih asuh, dan silih wawangi.

Atalia secara tegas menyatakan bahwa budaya lokal tidak pernah mengajarkan masyarakat untuk menertawakan beban biologis perempuan.

Di tengah upaya nasional untuk mengikis budaya patriarki, ia memandang kehadiran lagu ini sebagai langkah mundur dalam perjuangan kesetaraan gender di Indonesia.

Polemik ini kini menjadi catatan bagi para pejabat publik dalam memproduksi karya kreatif agar lebih mempertimbangkan sensitivitas sosial dan nilai-nilai kesetaraan.