Jakarta – Bursa Efek Indonesia (BEI) menetapkan target ambisius untuk meningkatkan jumlah perusahaan tercatat menjadi 1.100 emiten guna menempatkan pasar modal Indonesia ke dalam jajaran 10 bursa terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar pada Senin (3/8/2026).
Dilansir dari Katadata.co.id, target ini menuntut bursa untuk menarik sedikitnya 35 emiten baru setiap tahun dalam empat tahun ke depan guna melengkapi jumlah perusahaan yang saat ini mencapai 963 entitas.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hasan Fawzi, menyatakan bahwa target tersebut tetap realistis selama pertumbuhan perusahaan tercatat dan pendalaman pasar terus terjaga.
Menurut Hasan Fawzi, Indonesia saat ini telah berada pada posisi 20 besar dalam besaran kapitalisasi pasar dan nilai transaksi, sehingga penambahan 150 perusahaan berkualitas akan mendorong peningkatan kapitalisasi pasar secara signifikan.
Data perdagangan menunjukkan kapitalisasi pasar BEI mencapai Rp 10.971 triliun, angka yang masih berada di bawah capaian tahun 2025 yang sempat menembus Rp 15.000 triliun.
Tantangan jangka pendek terlihat dari realisasi penawaran umum perdana saham (IPO) yang baru mencatatkan enam perusahaan sepanjang tahun ini, jauh menurun dibandingkan 18 emiten baru pada periode yang sama tahun lalu.
Managing Director of Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, menyebutkan bahwa minat perusahaan untuk melakukan IPO sebenarnya masih tinggi namun banyak calon emiten memilih bersikap wait and see.
“Faktor kondisi pasar, kesiapan kinerja perusahaan, valuasi, serta momentum industri juga menjadi pertimbangan penting dalam menentukan waktu pelaksanaan IPO,” kata Harry Su.
Direktur Trimegah Sekuritas, Anung Rony Hascaryo, menilai lesunya aktivitas IPO saat ini lebih dipengaruhi oleh kondisi pasar yang menantang dibandingkan dengan transformasi yang dilakukan oleh pihak bursa.
“Saya rasa konteksnya bukan di bursanya; memang kondisi pasar saham sedang cukup menantang,” kata Anung Rony Hascaryo.
Selain target jumlah emiten, BEI juga menghadapi tantangan untuk mempertahankan status pasar di mata lembaga pengindeks global seperti MSCI dan FTSE Russell.
Indonesia saat ini masih berada dalam pengawasan ketat terkait isu transparansi, struktur kepemilikan saham, serta dugaan perdagangan yang terkonsentrasi yang berisiko menurunkan status dari emerging market menjadi frontier market.
Dalam tinjauan bulan Juni, MSCI memutuskan untuk membekukan proses rebalancing saham Indonesia dan akan mempertimbangkan konsultasi penurunan status jika tidak terdapat perbaikan memadai hingga tinjauan pada November mendatang.
Perhatian utama MSCI tertuju pada akurasi perhitungan free float serta transparansi struktur kepemilikan yang memengaruhi kualitas pembentukan harga dan tingkat investability pasar domestik.
Meskipun MSCI mengapresiasi reformasi kebijakan seperti penerapan kerangka high shareholding concentration (HSC) dan peningkatan batas minimum free float, investor global tetap menekankan pentingnya implementasi nyata di lapangan.
Keberhasilan BEI dalam mencapai target 1.100 emiten dan masuk dalam 10 besar bursa dunia akan sangat bergantung pada efektivitas reformasi pasar modal dalam meningkatkan transparansi serta kepercayaan investor global.






