Jakarta – Nilai tukar mata uang rupiah mencatatkan penguatan tipis di pasar spot pada Senin (3/8/2026) setelah sempat dibuka stagnan di level Rp 18.022 per dolar Amerika Serikat.
Dilansir dari Katadata.co.id, pergerakan mata uang Garuda tercatat menguat 0,26% ke level Rp 17.975 per dolar AS pada pukul 09.10 WIB.
Tren apresiasi mata uang domestik ini dipicu oleh membaiknya sentimen pasar global akibat pembatalan rencana serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran oleh Presiden Donald Trump.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyatakan bahwa meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis utama pelemahan dolar AS sekaligus memberikan ruang bagi penguatan mata uang negara berkembang.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS oleh harapan damai di Timur Tengah setelah Trump mengatakan pada Minggu pagi bahwa ia telah membatalkan rencana serangan terhadap Iran menyusul permintaan dari Teheran dan negara-negara tetangganya di kawasan tersebut,” kata Lukman.
Keputusan tersebut secara langsung meningkatkan optimisme pelaku pasar bahwa eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah tidak akan meluas lebih jauh.
Perubahan sentimen ini mendorong para investor untuk kembali mengalokasikan modal ke aset berisiko dan mengurangi permintaan terhadap dolar AS yang selama ini dianggap sebagai aset safe haven.
Meskipun demikian, Lukman menilai potensi penguatan rupiah masih akan tertahan oleh sikap antisipatif investor terhadap rilis data ekonomi domestik.
“Penguatan akan terbatas, dengan investor menantikan rilis data-data ekonomi penting domestik siang ini,” kata Lukman.
Pasar saat ini tengah memantau sejumlah indikator ekonomi domestik yang dinilai akan menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Dalam proyeksi teknikalnya, Doo Financial Futures memperkirakan rentang pergerakan rupiah berada di kisaran Rp 17.950 hingga Rp 18.100 per dolar AS.
Kondisi likuiditas di pasar valuta asing domestik terpantau stabil dengan volume transaksi yang masih berada dalam koridor normal di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Data Bloomberg menunjukkan bahwa setelah pembukaan yang stagnan, rupiah sempat terapresiasi 0,14% menjadi Rp 17.997 per dolar AS dalam hitungan menit.
Para pelaku pasar kini tetap fokus pada perkembangan kebijakan moneter dan stabilitas geopolitik yang dapat memengaruhi volatilitas nilai tukar dalam jangka pendek.
Sentimen positif yang muncul dari kebijakan luar negeri AS memberikan tekanan jual pada mata uang dolar yang sebelumnya sempat menguat akibat kekhawatiran konflik bersenjata.
Stabilitas nilai tukar menjadi fokus utama otoritas keuangan untuk menjaga daya beli serta menekan laju inflasi impor di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Para investor diharapkan untuk tetap mencermati rilis data ekonomi nasional yang akan menjadi acuan baru bagi pergerakan nilai tukar rupiah di pasar uang internasional.






